Seputar Buku

Manjali dan Cakrabirawa

9 May 2011

Judul Buku : Manjali dan Cakrabirawa

Penulis          : Ayu Utami

Penerbit       : Kepustakaan Populer Gramedia, 2010

Oleh : Iwan Soebakree*

Novel ini merupakan kelanjutan dari novel Bilangan Fu yang terangkai dalam satu seri. Apabila novel Bilangan Fu lebih bernuansa filosofis, maka seri roman ini lebih merupakan petualangan memecahkan teka-teki. Seri Bilangan Fu sendiri adalah serangakaian novel dengan tiga tokoh utama Marja, Yuda dan Parang Jati. Kali ini, si gadis kota, Marja dititipkan oleh Yuda kekasihnya kepada Parang Jati sewaktu libur kuliah. Mereka menjelajahi alam pedesaan Jawa serta candi-candi disana, perlahan namun pasti Marja jatuh cinta pada sahabatnya itu. Parang Jati membuka matanya akan rahasia yang terkubur dibalik hutan : kisah cinta, sedih dan hantu-hantu dalam sejarah negeri ini. Salah satunya adalah hantu Cakrabirawa atau Bhairawa Cakra.

Tema mengenai percandian dari masa Indonesia klasik, mitos calon arang serta misteri arca Bhairawa Cakra, yang kemudian dipakai oleh pasukan elit penajaga presiden pada masa Orde Lama dengan nama Cakrabirawa. Semua berhasil dirangkaikan dalan sebuah teka-teki yang cantik dan menarik oleh Ayu Utami. Ditambah dengan adanya tokoh Jacques-seorang arkolog dari Prancis- turut memberikan warna pada pola-pola pemikiran dalam novel ini. Antara pemikiran irasional yang spiritualis dan klenik dengan pola pikir rasional khas ilmuwan. Rentetan kebetulan-kebetulan dalam novel ini seakan-akan memberikan pilihan pada kita. Memilih berpikir irasional dan berkata bahwa ini adalah rencana Tuhan ataukah berpikir rasional dengan berusaha mencari pola-pola dari kejadian-kejadian tersebut. Read the rest of this entry »

_________________________________________________________

Pengantar Umum Psikoanalisis – Sigmund Freud

5 April 2011

Judul Buku       : Pengantar Umum Psikoanalisis

Penulis               : Sigmund Freud

Penerbit            : Pustaka Pelajar (2006)

Oleh : Iwan Soebakree*

Seorang kawan, menyarankan padaku untuk membaca buku ini ketika untuk pertama kalinya aku menyandang status sebagai seorang ayah. “Untuk membantu kau dalam memahami si kecil,”katanya. Ketika aku buka lembar demi lembar buku yang lumayan tebal ini, aku masih mereka-reka apa maksud dari Sigmund Freud dengan istilah psikoanalisanya. Dari judulnya saja, otakku yang hanya sekelas otak kambing sudah berkata,”Beraaatt…..!”. asumsi awalku mungkin kawanku ini ingin aku belajar memahami faktor-faktor psikologi anakku yang masih bayi. Namun, setelah aku baca ternyata psikoanalisa tidak hanya membahas tentang psikologi anak kecil (bayi) semata. Dalam karyanya ini, Freud menyusun sebuah model sifat manusia untuk memahami manusia (human qu human) dan masa kanak-kanak inilah awal dari konsep dasar pemikirannya.

Dalam pandangan Freud, perkembangan individu adalah sebuah bentuk dari evolusi perkembangan manusia. Dorongan utama dalam diri manusia (energi seksual) merupakan sebuah proses evolusi sejak kelahiran hingga masa puber dan dewasa yang kemudian membentuk mentalitas yang berbeda-beda dalam kehidupan masing-masing individu. Segala gangguan psikologis yang dialami manusia dari awal pertumbuhan hingga dewasa jelas berpengaruh terhadap kesehatan mental dari seorang individu. Pendeknya dengan psikoanalisis, Freud ingin membantu manusia untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahannya dari pendekatan psikologi dan mencapai sesuatu hal yang dikatakannya sebagai manusia “Sehat”. Read the rest of this entry »

__________________________________

Sang Pemimpi dan Inspirasi

Oleh : Iwan Soebakree*

Judul Buku       : Sang Pemimpi
Penulis              : Andrea Hirata
Penerbit            : Bentang Pustaka

Buku ini merupakan sequel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata. Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan buku ini, semua pembaca novel ini menyepakati bahwa Sang Pemimpi sangat inspiratif. Buku ini seakan meneruskan kesukesan Laskar Pelangi yang terbit sebelumnya. Sesuai dengan judulnya “Sang Pemimpi” yang menceritakan kisah para perajut Mimpi dari Tanah Belitong. Mereka adalah Ikal (dewasa), Arai dan Jimbron. Tetap menampilkan sebuah kesederhanaan seperti halnya Laskar Pelangi, namun penuh semangat juang dalam meraih mimpi-mimpi mereka.

Pada saat anda membaca awal dari buku ini, mungkin anda akan tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala membaca kekonyolan dan kenakalan dari tokoh-tokoh didalamnya. Sampai-sampai sebutan “berandal” disematkan kepada mereka. Keanggunan bahasa dan segala daya tariknya mampu menyedot anda kedalam dunia mereka, sehingga seakan-akan anda dapat merasakan menjadi bagian dari cerita. Sempat saya tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah jimbron yang tergila-gila dengan kuda, trenyuh melihat kepedulian seorang Arai terhadap sesamanya. Sesuatu hal yang jarang terjadi dalam kehidupan sekarang.

Potret-potret kecil perjalanan mereka yang memiliki efek filosofis dan sarat akan pesan moral, akan langsung menusuk kedalam sanubari anda. Selingan humor yang kadangkala muncul, dibalut dengan keadaan yang serba tidak berdaya, terasa halus, sehingga tanpa terasa anda akan tertawa sekaligus menangis. Namun, arti perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani dalam kisah dua orang tokoh utama buku ini: Arai dan Ikal akan menuntun Anda melihat ke dalam diri sendiri, memantik semangat anda, sehingga akhirnya anda berani berkata “Tidak” pada semua keputusasaan dan tak akan menyerah pada segala ketakberdayaan karena keadaan. Read the rest of this entry »

————————————————————

Laskar Pelangi

Laskar Pelangi mengisahkan anak-anak Belitung yang masih memiliki impian, harapan, dan cinta. Sekolah mereka, SD Muhammadiyah, merupakan sekolah yang terancam bubar jika jumlah murid tahun ajaran baru tidak mencapai sepuluh orang. Kehadiran anak kesepuluh disambut suka cita oleh semua orang. Ini merupakan awal mencapai mimpi-mimpi mereka.

SD Muhammadiyah mengajarkan banyak hal kepada anak-anak Laskar Pelangi. Tiadanya fasilitas sekolah yang memadai, tak membuat mereka kehilangan kreativitas. Mereka terus belajar, berkembang, dan semakin dewasa. Hari-hari yang mereka lalui pun membuat persahabatan mereka semaikn erat. Read the rest of this entry »

___________________________________________________________________________________________________

Oleh : Iwan Soebakree*

Selain Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika), salah satu karya besar Datuk Seri Tan Malaka yang lain adalah Merdeka 100%. Merdeka 100% ini, ditulis di tengah suasana peperangan besar Surabaya 1945 setelah sebelumnya Tan Malaka berkeliling Jawa. Pertempuran Surabaya ini memberikan inspirasi untuk menulis tiga buah brosur: Politik, Rencana Ekonomi, dan Muslihat. Peredaran brosur ini hanya terbatas sekali, oleh sebab itu tidak pernah bisa menjadi alternatif untuk menggantikan Perjuangan Kita, karya Sjahrir yang sebenarnya jauh di bawah brosur Tan Malaka (Harry A. Poeze, KITLV Belanda)

Buku ini barangkali merupakan karya Tan Malaka yang paling imajinatif. Brosur ekonomi-politik yang dituturkan dalam gaya naskah drama, percakapan antara kelima tokoh yang oleh Tan Malaka dijuluki “para pendakwa modern”, yakni: Godam (wakil kaum buruh), Pacul (wakil kaum tani), Denmas (wakil priyayi), Toke (wakil kelas pedagang), Mr. Apal (wakil kaum intelektual). Disini Tan Malaka merumuskan perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya untuk meraih kemerdekaan, namun lebih jauh kedepan yaitu bentuk Negara Indonesia Merdeka. Melalui dialog ketiga tokoh tersebut, kita dapat menelaah dan merenungkan kembali maksud dari Merdeka 100% yang di tulis Tan Malaka. Read the rest of this entry »

_________________________________________________________

Catatan Seorang Demonstran


Soe Hok Gie
Catatan harian milik Soe Hok Gie, aktivis yang menempa populariti pada zaman kemahasiswaannya, menjadi inspirasi kepada ramai pembaca yang gemar meneropong sudut-sudut fikir orang.Catatan harian beliau sejak 4 Mac 1957, seawal umurnya pada 14 tahun, sehingga 8 Disember 1969 telah dibukukan dalam judul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran.Catatan Gie adalah berkisarkan tentang pengalaman dan pemikirannya terhadap sastera, sejarah, politik, cinta, kehidupan dan kematian.Lahirnya sang aktivisSoe Hok Gie atau popular dikenali sebagai Gie, lahir di Indonesia pada 17 Disember 1942.Seawal umur 15 tahun, Gie sudah melahap karya sastera Shakespeare, Andre Gide, Amir Hamzah dan Spengler, malah pernah berdebat dengan gurunya berkenaan Chairil Anwar dan Rivai Apin.

Gie melanjutkan pelajaran di Universiti Indonesia pada 1961. Saat inilah beliau terjerumus ke dalam aktivisme kemahasiswaan. Bahan bacaannya juga semakin berat apabila beliau menelaah karya Bernard Shaw, George Orwell, Djilas, Koestler, Marx dan lain-lain karya politik.

Gie bersama teman-temannya pada 24 Februari 1963 pernah bertemu muka dengan Presiden Soekarno, berdialog tentang beberapa isu. Antaranya, soal ras, perkahwinan, homoseks, politik dan pndidikan nasional.

Untuk ini, Gie mencatat, “Sebagai manusia, saya kira senang pada Bung Karno, tetapi sebagai pemimpin tidak. Bagaimana ada pertanggungjawaban sosialisme melihat negara dipimpin oleh orang sebegitu?” Read the rest of this entry »

———————————————————-

Long March di samping Ketua Mao Tse Tung

Judul buku : Long March di samping ketua Mao Tse Tung

Penulis         : Tjen Tjan Feng

Penerbit      : Guci Media Surabaya (2001)

Buku ini diterbitkan berdasarkan sebuah catatan perjalanan seorang tentara Merah China bernama Tjen tjan Feng, ajudan setia Mao Tse Tung selama Long March Revolusi Tiongkok pada tahun 1930-1936, sejauh 12.500 km, yang melewati 11 propinsi mulai dari Fu Cien, Ciang Si, Kuang Tung, Hu Nan, Kuang Si, Kui Chou, Si Kang, Se Cuan, Kan Su, dan yang terakhir menuju Sansi utara.

Setelah membaca buku ini, memang benar seperti yang telah dipesankan oleh sang kata pengantar di awal-awal, buku ini tidak memaparkan muluk-muluk tentang ideology dan pemikiran ataupun strategi politik dan militer ala Mao Tse Tung, melainkan sebuah kisah sikap dan perilaku sehari-hari dari seorang Mao Tse Tung dalam Long March tersebut.

Layaknya sebuah biografi, buku ini ringan untuk dicerna namun tidak mengurangi berbagai pesan moral yang dibawanya. Paling tidak kita bisa melihat gambaran sosok Mao Tse Tung dari perspektif subjektif lain, yaitu dari ajudan setianya, Tjen Tjan Feng yang kemudian diangkat menjadi Kolonel dan menjabat sebagai panglima sub teritorium Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok atau yang lazim disebut dengan Tentara Merah, yang kadang kala jauh berbeda dari yang pernah kita lihat, dengar dan baca dari referensi-referensi orde baru yang mana Komunis itu identik dengan kekejaman dan tidak berperikemanusiaan. Read the rest of this entry »

———————————————————-

Judul buku                    : Arus Balik (Sebuah Novel Sejarah)

Pengarang                    : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit                        : Hasta Mitra

Tahun Terbit                 : 2002

Jumlah halaman          : 795 hlm.

Dalam “Novel Sejarah”  ini Pramoedya menyuguhkan sebuah pesan moral kepada seluruh masyarakat Indonesia, bahwa nusantara kita pernah berjaya. Pramoedya bukannya menangisi kebesaran masa lalu, tidak pula merindukan kejayaan purbakala, tetapi dia bernostalgia dengan masa depan yang cerah. Baginya sejarah adalah cermin paling jernih, referensi terpercaya untuk sebuah perubahan guna membangun masa depan yang lebih baik. Disinilah kita bisa melihat letak kecintaan seorang Pramoedya pada rakyat dan tumpah darahnya.

Sedemikian banyak pelajaran-pelajaran dipersembahkan oleh sejarah dan diteruskan oleh Pramoedya kepada masyarakat luas lewat keunggulan penanya. Dia menulis betapa kekuatan dan kesatuan maritim nusantara pernah memecah ombak samudra damai ke utara, tetapi kemudian arus membalik. Arus raksasa menggelombang dari utara menghempas nusantara mundur ke selatan, kepedalaman yang bahkan lebih jauh lagi mundur sampai ke desa-desa di kaki pegunungan, sehingga yang tertinggal hanyalah negara kota kecil-kecil di pesisir utara Jawa. Read the rest of this entry »

———————————————————-

5 cm

Penulis/Author: Donny Dhirgantoro
Penerbit/Publisher: Grasindo
Cetakan/Edition: 2005

Sekali lagi, aku terkagum-kagum membaca karya anak bangsa. Jangan-jangan memang aku yang sudah terlalu lama merantau melebihi keinginan bathin?? Yang pasti, aku tahu, aku sangat normal karena selalu merindukan Jakarta dengan sejuta tempat makan super nikmatnya plus lampu-lampu jalanan dan suasana romantis Jakarta Kota di malam hari. Thanks Donny, for putting all my imaginations and desires into such a believable writing (lihat halaman 353). Silakan tidak percaya juga, karena aku pun merindukan macetnya kota Jakarta, waktu yang tidak pernah habis di caci maki tetapi waktu yang tepat pula untuk menganalisa sisi kanan-kiri mobil dan melihat wajah Jakarta dari balik kaca, sambil tune-in radio kesayangan, hahaha… I know I am never crazy for wanting to go home afterall.

Kelima sahabat (Arial, Genta, Riana, Zafran dan Ian) berteman sejak mereka masih memakai seragam putih abu-abu, masa-masa muda yang penuh cerita lucu, sedikit tolol maupun cerita sedih yang akan selalu dikenang sebagai hal paling manis dalam hidup. Persahabatan mereka sedemikian eratnya sehingga tak terasa mereka selalu bertemu dan bercengkerama hampir setiap hari, meskipun sebagian dari mereka sudah mulai bekerja. Untuk menghindari kejenuhan yang kronis, mereka sepakat untuk tidak berkomunikasi selama 3 bulan, waktu yang akan mereka pakai untuk melanjutkan hidup dan memungut apa yang sempat terbengkalai karena kegiatan dengan para sahabat. Arial mencari cintanya, Genta, Zafran dan Riana berusaha fokus pada pekerjaan mereka, sedangkan Ian melanjutkan kembali skripsinya yang sudah lama tertunda. Pertemuan setelah 3 bulan nanti akan mereka rayakan secara besar-besaran.

Genta yang punya ide. Tanpa memberitahukan secara detail, melalui sms Genta mengingatkan sahabat-sahabatnya tentang 3 bulan yang hampir habis dalam waktu seminggu diikuti sederetan permintaan bahwa pada hari H mereka harus bertemu di Stasiun Senen. Teman-temannya diminta pula membawa segudang peralatan. Genta berniat membawa para sahabatnya untuk melakukan sebuah perjalanan, perjalanan hati yang memperkaya diri mereka sebagai manusia, perjalanan yang menjadi momentum perubahan dalam diri mereka. Mereka akan mendaki gunung Semeru untuk mencapai puncak Mahameru tepat pada tanggal 17 Agustus.

Read the rest of this entry »

———————————————————-

Bung Karno : Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Judul Buku    : Bung Karno : Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Penulis            : Cindy Adams

Penerbit         : Yayasan Bung Karno dan Penerbit Media Pressindo

Tahun terbit : Edisi Revisi 2007

Saya sudah membaca buku-buku karya Soekarno maupun karya penulis lain tentang dirinya semenjak masih belia. Di Bawah Bendera Revolusi saya baca saat masih kelas 5 SD. Tapi ya namanya anak kecil, bacanya lompat-lompat dan jelas tidak tuntas. Saya bukanlah manusia super yang serba hebat. Alamiah saja. Buku seberat itu tentu bukan konsumsi anak ingusan berusia 10-11 tahun seperti saya waktu itu. Tapi saya membaca tuntas sejumlah buku tulisan orang lain tentang si Bung. Satu yang saya ingat adalah karya John D. Legge. Tentu karena bahasanya yang lebih ringan.

Akan tetapi buku yang berhubungan dengan Bung Karno yang paling berkesan bagi saya adalah karya Cindy Adams: Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Wartawati asal Amerika Serikat itu berhasil mengungkap sisi-sisi Presiden Pertama R.I. itu yang belum pernah atau jarang diketahui umum. Misalnya saja kisah percintaannya maupun kebiasaan sehari-harinya. Read the rest of this entry »

———————————————————-

Negeri 5 Menara

Judul Buku : Negeri 5 Menara
Penulis : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, Juli 2009
Tebal : 416 halaman

NEGERI 5 MENARA, novel karya A. Fuadi ini memperlihatkan betapa do­minannya parameter non-artistik dalam menentukan kualitas dan kedalaman sebuah karya sastra. Sampul belakang buku itu sarat dengan endorsement yang ditulis oleh nama-nama beken, mulai mantan presiden, sutradara tersohor, gubernur, budayawan, intelektual, hingga pimpinan pesantren. Hampir semua komentar itu menyingkapkan segi-segi etik dan didaktik dari novel setebal 416 halaman tersebut. Tak ada satu pun ulasan dari sudut pandang estetika sastrawi. Apakah segi-segi estetik dan artistik yang sepatutnya menjadi kriteria utama da­lam menimbang sebuah karya sastra tidak lagi penting?

Berkisah tentang upaya keras enam orang santri di sebuah pondok pesantren dalam menggapai obsesi dan cita-cita besar mereka. Setelah menghadapi kegiatan belajar-mengajar yang sedemikian padat dan aturan-aturan kedisiplinan ekstraketat di Pondok Ma­dani (PM), Alif (Padang), Atang (Bandung), Raja (Medan), Dulmajid (Sumenep), Said (Mojokerto), dan Baso (Gowa) bersembunyi di bawah menara masjid PM, membangun mimpi-mimpi masa depan dengan mantra ampuh yang sama-sama mereka percayai; man jadda wajada (siapa yang bersungguh pasti akan sukses).

Alif tidak pernah mengira bahwa dirinya akan jadi santri PM yang disebut-sebut telah mencetak banyak ulama dan intelektual muslim itu. Sebab, sejak kecil dia ingin menjadi ”Habibie”. Baginya, Habibie tidak dalam arti seorang teknokrat genius, tapi sebuah profesi sendiri lantaran dia sangat kagum pada tokoh itu. Itu sebabnya, Alif ingin masuk SMA dan kelak melanjutkan pendidikan di ITB, sebagaimana riwayat perjalanan intelektual Habibie. Namun, ibunda Alif menginginkan anaknya mewarisi keulamaan Buya Hamka, ulama kondang yang lahir dan besar tidak jauh dari Bayur, tanah kelahiran Alif. Maka, dalam kebimbangan, Alif menerima tawaran itu sehingga dia bertemu dengan santri-santri berkemauan keras seperti Baso yang mati-matian menghafal 30 juz Quran sebagai syarat guna menggapai impiannya bersekolah di Madinah. Begitu juga Raja, Dulma­jid, Said, dan Atang.
Read the rest of this entry »

———————————————————-

Sumber : JawaPos, 16 Mei 2010
Judul Buku: Konflik, Manipulasi dan Kebangkrutan Orde Baru
Peresensi: Binhad Nurrohmat
Penulis: Eep Saefulloh Fatah
Penerbit: Burungmerak Press, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: xix + 402 halamanKEKUASAAN dan sengketa politik serupa dua sisi sekeping koin. Tamsil itu bukan kenyataan kekuasaan ideal, tapi demikian realitas yang terjadi. Bahkan, tikai politik dianggap identik dengan kekuasaan. Tiada kekuasaan tanpa ketegangan politik dan tak ada konflik politik tanpa tujuan kekuasaan.Sengketa politik merupakan pengalaman yang memberikan pelajaran nyata. Kadar mutu pelajaran yang diperoleh dari pengalaman itu bergantung pada sejauh mana mendalami dan memahaminya.Buku ini mengelola pengalaman itu secara ketat-kritis melalui alat-alat teoretis-akademis sehingga keilmiahannya bisa dipertanggungjawabkan dan bisa diuji bersama. Buku ini berisi uraian cerita dan analisis teoretis tiga sengketa politik pada masa kekuasaan negara Orde Baru: Malari (1974), Petisi 50 (1980), dan Peristiwa Tanjung Priok (1984).

Tiga konflik politik itu terdeskripsikan kronologis dan anatominya serupa cerita yang dilengkapi bagan dan peta tempat peristiwa serta dokumen mengenainya. Semua itu diteropong serta dirumuskan melalui teori Nicos Poulantzas dan teori Peter Evans.

Poulantzas dan Evans adalah dua pemikir negara berkembang setelah Perang Dunia II. Poulantzas menolak negara instrumentalis model marxis ortodoks dan menawarkan model negara-organis. Sedangkan Evans menggagas negara struktural. Bagi Evans, dominasi negara merupakan persekutuan negara dan borjuasi nasional yang melibatkan faktor modal asing.

***

Bagaimanakah gambaran tiga peristiwa konflik politik itu?

Gerakan Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) merupakan aksi mahasiswa dan massa menolak lawatan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka. Aksi itu menimbulkan huru-hara dan perusakan-perusakan fisik berskala luas di Jakarta yang mengakibatkan kematian belasan orang dan penangkapan ratusan tokoh oleh tentara. Aksi tersebut, antara lain, didasari antidominasi modal asing (terutama Jepang), pemusatan sumber ekonomi penting di tangan militer, dan marginalisasi masyarakat. Aksi itu merupakan klimaks perbenturan kritisisme masyarakat dengan kinerja ekonomi dan politik negara.

Read the rest of this entry »

——————————————————–

Percikan Revolusi Subuh – Pramoedya Ananta Toer

Percikan Revolusi Subuh – Pramoedya Ananta Toer
Oleh : Medi Bilem*
Pengalaman mengajar kita,bahwa kita harus berpikir sebelum menceburkan diri dalam medan pengalaman itu sendiri.Berpikir mendahului pengalaman!Dan berpikir itu sendiri sudah suatu pengalaman pendahuluan.Apabila orang menceburkan diri ke dalam pengalaman sebelum menyiapakan diri dalam berpikir akan menumbuk kiri-kanan.Kemudian orang merasa:alangkah pahit.Dan kepahitan hidup menuakan orang dan memendekkan umur.Begitu kata orang.

Dari pengalaman-pengalaman manusia,orang belajar mengetahui dan mengenali diri sendiri.Dan tak adalah suatu kesenangan yang begitu sempurna daripada mengenal diri sendiri.Sayangnya,untuk mengenal diri sendiri umur kita terlalu pendek.Jadi sejak bumi ini masih lumpur panas hingga sekarang ini tak seorangpun kenal dirinya sendiri.Tak ada orang yang pernah merasai kesenangan yang sempurna.
Kadang-kadang kita tersandung pada batu,sakit dan mengaduh.Kadang-kadang dengan mendadak saja darah kita meluap mendengar perkataan orang.Atau dengan tidak sadar tiba-tiba kita ingin menonton bioskop,ingin bersanding dengan kekasih.Kita tak pernah mengerti kenapa jadi begitu.Dan hal-hal kecil itu menunjukkan manusia tak kenal dirinya sendiri.Hanya sebentar saja manusia berpikir dengan otaknya sendiri.Ini pula sebabnya mengapa orang banyak mengalami kepahitan dalam hidupnya.

Tulisan ini adalah pengalaman yang terserak-serak.Pengalaman yang tumbuh dari jiwa manusia yang kerdil-suatu campur aduk yang tak berencana. Kesenangan, kesedihan, gambaran dari jiwa kecil yang tak dituntun oleh pikiran yang sehat.

JAKARTA MENGHADAPI AKSI MILITER

Di hari-hari belakangan ini suasana gelisah saja.Linggarjati tak bisa dipertahankan kasiatnya lagi.Kembali manusia Republik yang tak pernah punya kesempatan berkorupsi terlibat dalam kesukaran rumah tangga kecil-kecil : nasib orang Republik.Rencana aksi militer yang gagal memorakperandakan harapan Republiken kecil di Jakarta,di seluruh daerah pendudukan.Apa yang akan terjadi?Orang hanya menanti.Dan sesungguhnya orang kecil yang tak punya kekuasaan apa-apa,hidupnya hanya rangkaian penantian belaka.Dan dalam menanti itu orang gelisah.

Read the rest of this entry »

——————————————————–

Judul buku : The Idea of Indonesia
Penulis: R.E. Elson

Terbit : Desember 2008
Penerbit: Serambi

Sejarah selalu bergulir sesuai dengan perubahan zaman. Siapa yang berkuasa, pasti dapat dikatakan merekalah yang menjadi pemegang utama dalam penulisan sejarah. Sejarah yang ditulis akan selalu menempatkan mereka pada titik tertinggi sesuai dengan keinginannya.

Benar tidaknya sejarah dalam peradaban, boleh dibilang tergantung siapa penguasanya, tak terkecuali di Indonesia. Dari sekian banyak penjajah yang pernah singgah, sejarah Indonesiapun muncul dalam banyaknya versi bak jamur di musim hujan. Setiap orang mengatakan bahwa sejarah merekalah yang benar. Akhirnya memunculkan kontroversi berkepanjangan. Dan sejarah tentang Indonesia pun menjadi sesuatu yang absurd.

Memang gagasan tentang awal pemikiran dan pembentukan Negara Indonesia sudah banyak menjadi perdebatan yang cukup alot, terlebih oleh sejarawan internasional. Pelbagai kalangan mengklaim merekalah yang memunculkan ide tentang pembentukan Indonesia. Khususnya sejarawan Belanda yang banyak memiliki data tentang Indonesia, sehingga mereka beranggapan cikal bakal Indonesia dibentuk mereka.

R. E. Elson, seorang tokoh ternama, lewat karyanya ini berusaha untuk mengenalkan kembali serta mencari asal-usul dari gagasan terbentuknya Indonesia, yang dimulai sejak pertengahan abad kesembilan belas.

Read the rest of this entry »

——————————————————–

Soe Hok-Gie… Sekali Lagi

Judul: Soe Hok-Gie..Sekali Lagi
Penulis : Rudy Badil, dkk
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal : xxxix + 512 Halaman
Tahun : Desember 2009

Soe Hok Gie adalah ikon gerakan mahasiswa. Ia telah menjadi inspirasi bagi banyak aktivis kampus di era tahun 1980-an hingga 1990-an. Bahkan catatan hariannya yang dibukukan dalam Catatan Seorang Demonstran, menjadi semacam bacaan wajib bagi peminat ataupun simpatisan dunia pergerakan.

Dari buku tersebut dapat dilihat bagaimana Hok-Gie merespon realitas. Jejak kegelisahan, semangat, perenungan, sikap maupun idealismenya dapat dilihat dari buku tersebut. Buku tersebut seolah menjadi representasi dunia batin adik kandung budayawan Arief Budiman itu.
Namun, sisi human interest dari Hok-Gie memang sulit untuk dilacak. Rasanya belum ada literatur yang mengungkap sisi ini. Padahal hal ini boleh jadi sisi yang “misterius” dari Hok-Gie, sebut saja bagaimana cara ia bergaul dengan karib serta koleganya, bagaimana cara ia menangani permasalahan di lapangan, ataupun bagaimana hubungannya dengan beberapa teman dekat wanitanya.

Read the rest of this entry »

2 Responses to Seputar Buku

  1. jackie says:

    i have got great information through this corner….Thank you so much

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: