Berita Edukasi

Ada Apa dengan Guru Swasta??

27 December 2010

”Guru swasta? Guru kok swasta. Swasta kan singkatannya selalu was-was dan menderita”, komentar seorang teman selesai membaca tulisan ini, yang sejak semula diberi judul Guru Swasta. Sayang, ia minta untuk tidak disebutkan profesinya, tetapi ucapannya itu mengandung kebenaran juga, dan tak jauh-jauh amat bedanya dari kenyataan yang ada.

Siapa sih guru swasta atau guru bukan PNS? PP 74/2008 tentang Guru sudah disahkan, lihat di Pasal 1. Kualifikasi akademik dan kompetensinya tidak perlu kalah dengan guru PNS. Namun, kalau sudah menyangkut ihwal perlakuan dan pelayanan, guru swasta harus rela menelan kenyataan, bahwa mereka senantiasa dimarjinalkan. Buktinya, meskipun mereka bukan buruh, tapi terkadang mendapatkan perlakuan lebih tidak beruntung. Sebab, sewaktu-waktu pihak yayasan bisa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak alias memecatnya dari sekolah/madrasahnya, tanpa pesangon, bahkan tanpa pembelaan dari pihak Pemerintah.

Peristiwa PHK guru swasta secara sepihak oleh yayasan seperti ini sering terjadi, tetapi sering pula luput dari pemberitaan media massa, walaupun kejadiannya bisa sangat tidak manusiawi. Tak peduli terhadap guru yang telah senior, semua guru takkan lolos tertimpa perlakuan yang demikian itu, jika pihak yayasan menghendakinya. Jangankan mengharapkan penghargaan atas lama pengabdian mereka di sekolah/madrasah tersebut, melakukan pembelaan pun jarang diberikan kesempatan.

Kondisi paling gawat ini umumnya menimpa nasib guru swasta, ketika sekolah/madrasah menjelang mengakhiri atau mengawali tahun pelajaran. Lebih-lebih bila proses penerimaan siswa barunya gagal, sehingga rombongan belajar siswa baru yang diterima jumlahnya merosot tajam. Dapat dipastikan ini akan segera mencederai kenyamanan hidup guru-guru mereka.

Read the rest of this entry »


Guru dan Strata Sosial

15 October 2010

Oleh Agus Listiyono

Beberapa waktu lalu penulis bertemu dengan sepasang suami isteri yang berprofesi sebagai guru. Suami sebagai Kepala Sekolah di sebuah sekolah boarding sedang isteri sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di sebuah sekolah menengah pertama. Keduanya sebagai guru di lembaga pendidikan swasta. Mereka tinggal di kota Bogor. Jika dihitung dengan rentang tahun, pasangan ini telah mengabdikan dirinya sebagai guru kurang lebih 5 tahun, yaitu setelah lulus dari sekolah guru yang dulu bernama IKIP.

Dalam tulisan ini penulis ingin sekali mengemukakan pada kita semua tentang sisi yang selama ini kita ketahui, pahami dan sadari bersama, yaitu tentang profesi guru dan pandangan kita (baca: masyarakat) terhadap profesi tersebut. Termasuk juga profesi Pak Jono dan Bu Ani, sepasang guru yang dimaksud. Pak Jono dan Bu Ani adalah lulusan dari sekolah guru yang bernama IKIP. Dan beginilah cerita Pak Jono.

Sebagai lulusan yang tergolong baik di sekolah menengah umum teladan (Parameter keteladanan adalah tingginya persentasi lulusan SMU ini yang diterima di Universitas atau perguruan negeri ternama di Indonesia. SMU ini konon sebagai SMU percontohan. Dan hal ini diakui oleh seluruh anggota masyarakat), ia tidak ikut berebut kursi di perguruan tinggi bergengsi tetapi justru masuk ke lembaga pendidikan guru yang bernama IKIP. Keyakinan untuk masuk dalam lembaga pendidikan keguruan tersebut muncul bukan karena kondisi ekonomi keluarga tetapi karena terpanggilnya ia untuk menjadi guru. Tekadnya masuk institut pendidikan guru untuk pertama kali mendapat ’hambatan’ bukan dari pihak keluarga tetapi justru dari staf administrasi dan beberapa guru di sekolah asalnya, SMU teladan tersebut. Komentar yang bernada merendahkan ia dapat ketika ia harus mengurus legalisasi ijazah aslinya (Dia hingga sekarang belum menjadi caleg dari partai politik apapun, jadi ijazahnya 100 % asli) di SMUnya. Read the rest of this entry »

Posted by soebakree


NASIB GURU TIDAK TETAP (GTT) DI TAHUN 2010

16 August 2010

Oleh: SOFIA ZAHRO, S. Pd.

Saya tertarik dan simpati pada beberapa tulisan saudara Augustinus Simanjuntak, dosen Hukum Bisnis dan Aspek Hukum Progran Manajemen Fakultas Ekonomi UK Petra yang mengangkat tema dan peduli tentang nasib Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak. Dua tulisan yang pernah say a baca adalah:  GTT MENURUT PRESPEKTIF HUKUM, Jawa Pos, Rabu 15 Agustus 2007, dan PRESPEKTIF HUKUM DAN EKONOMI UMK 2008, Jawa Pos, Sabtu 29 Desember 2007.

Kesimpulan yang dapat  diambil bahwa dalam dunia pendidikan yang bersifat terus menerus dan membutuhkan waktu dan proses yang sangat lama seharusnya tidak terdapat istilah Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak pada satuan pendidikan pemerintah maupun masyarakat. Masyarakat menurut UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah kelompok Warga Negara Indonesia non pemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan. Istilah pekerja kontrak (termasuk guru kontrak) tidak dikenal dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan (UU Tenaker), yang ada adalah istilah perjanjian kerja, baik untuk waktu tertentu maupun tak tertentu. Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak memang dibutuhkan, tetapi karena keahlian khusus, yaitu guru yang sewaktu-waktu bisa disewa oleh sekolah untuk member materi-materi khusus dengan waktu tertentu pula. Jadi Guru Tidak Tetap (GTT) dengan system kontrak tidak berlaku untuk guru mata pelajaran yang sifatnya terus menerus dan membutuhkan proses waktu yang sangat lama.

Read the rest of this entry »


Menjawab Tantangan Guru

11 July 2010

Memperbincangkan pendidikan dewasa ini, seperti menelisik setiap sendi kehidupan manusia. Peranan dunia pendidikan tidak hanya sekadar mengemban amanat mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih dari itu, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab moral membentuk manusia seutuhnya. Yaitu manusia yang mampu memahami dirinya sendiri.

Terlepas dari peran-fungsinya bagi setiap manusia, dunia pendidikan juga menjadi cerminan bagi survivenya suatu Negara-bangsa di tengah kancah pertarungan globalisasi. Maupun sebaliknya, kemajuan suatu Negara-bangsa juga dapat diukur sejauh mana dunia pendidikan yang dibangun di dalamnya. Dengan kata lain, dunia pendidikan menjadi barometer suatu Negara-bangsa dalam membaca dan melihat posisinya.

Maka tidak heranlah, sepanjang sejarah Negara-bangsa Indonesia, persoalan menemukan konsep dunia pendidikan yang ideal tak pernah usai. Hal ini berbanding lurus dengan gerak laju zaman yang selalu ditentukan dari riuh redam ruang kelas ataupun ruang kuliah para cendekia.

Read the rest of this entry »


MENUJU PENDIDIKAN YANG HUMANIS

11 July 2010


Oleh Happy Susanto

PENDIDIKAN kita mengalami proses “dehumanisasi”. Dikatakan demikian karena pendidikan mengalami proses kemunduran dengan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya. Bisa juga dikatakan bahwa pendidikan kita mengalami “kegagalan” apabila kita menengok beberapa kasus beberapa saat yang lalu telah muncul ke permukaan. Kenyataan ini telah menjadi keprihatinan bersama masyarakat kita. Jangan sampai kondisi demikian akan selalu menggelapkan raut muka dan wajah buruk pendidikan kita. Sudah saatnya, reformasi pendidikan perlu untuk segera dan secara massif diupayakan, yaitu gagasan dan langkah untuk menuju pendidikan yang berorientasi kemanusiaan.

Berbagai macam kasus kekerasan yang merebak dalam kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan kita, mengindikasikan bahwa pendidikan belum mempunyai peran signifikan dalam proses membangun kepribadian bangsa kita yang punya jiwa sosial dan kemanusiaan. Radikalisme agama adalah salah satu problem nasional yang perlu dipecahkan. Salah satu upaya strategisnya adalah dengan membangun paradigma pendidikan yang berwawasan kemanusiaan. Dengan pendidikan yang bermodelkan seperti ini maka sikap moderatisme dalam beragama adalah hasil yang tidak bisa dinafikan begitu saja. Dan ini sangat penting karena memiliki benah merah pemikiran yang jelas.

Mencetak calon pemimpin bangsa tidak bisa lepas dari peran dan fungsi pendidikan. Siapa saja yang kini telah menjadi orang-orang sukses adalah berkat hasil dari produk pendidikan yang bisa diandalkan. Praktik korupsi yang dilakukan oleh beberapa oknum penguasa adalah cermin dari buram dan minimnya produk pendidikan kita. Pendidikan bukan hanya berupa transfer ilmu (pengetahuan) dari satu orang ke satu (beberapa) orang lain, tapi juga mentrasformasikan nilai-nilai (bukan nilai hitam di atas kertas putih) ke dalam jiwa, kepribadiaan, dan struktur kesadaran manusia itu. Hasil cetak kepribadian manusia adalah hasil dari proses transformasi pengetahuan dan pendidikan yang dilakukan secara humanis.

Tapi, selama ini kita hanya melihat pendidikan hanya sebagai momen “ritualisasi”. Makna baru yang dirasakan cenderung tidak begitu signifikan. Apalagi, menghasilkan insan-insan pendidikan yang memiliki karakter manusiawi. Pendidikan kita sangat miskin dari sarat keilmuan yang meniscayakan jaminan atas perbaikan kondisi sosial yang ada. Pendidikan hanya menjadi “barang dagangan” yang dibeli oleh siapa saja yang sanggup memperolehnya. Akhirnya, pendidikan belum menjadi bagian utuh dan integral yang menyatu dalam pikiran masyarakat keseluruhan.

Ivan Illich, kritikus pendidikan yang banyak melakukan gugatan atas konsep sekolah dan kapitalisasi pendidikan, mengatakan bahwa kita harus mengenali keterasingan manusia dari belajarnya sendiri ketika pengetahuan menjadi produk sebuah profesi jasa (guru) dan murid menjadi konsumennya. Kapitalisme pengetahuan pada sejumlah besar konsumen pengetahuan, yakni orang-orang yang membeli banyak persediaan pengetahuan dari sekolah akan mampu menikmati keistimewaan hidup, punya penghasilan tinggi, dan punya akses ke alat-alat produksi yang hebat. Pendidikan kemudian dikomersialkan. Sehingga tidak ada kepedulian seluruh elemen pendidikan untuk lebih memperhatikan nasib pendidikan bagi kaum tertindas.

Implikasi atas kapitalisasi pendidikan itu maka masyarakat kita akan susah mendapatkan akses yang lebih luas untuk memperoleh pengetahuan. Yang mampu mengakses adalah mereka yang memang mempunyai banyak uang karena pendidikan adalah barang dagangan yang mewah. Hal ini nampak dalam kondisi pendidikan bangsa kita. Akhirnya, kita semua terpaksa harus membayar mahal demi memperoleh pendidikan. Padahal, belum tentu kualitas yang dihasilkannya akan menjamin atas pembentukan kepribadian yang memiliki kesadaran atas kemanusiaan.

Read the rest of this entry »


Kastanisasi Pendidikan

27 June 2010

“Motto yang terpampang di salah satu Sekolah Bertaraf Internasional di Surabaya”

Oleh Ki Supriyoko

MESKI telah banyak keluhan tentang rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI), Pak M. Nuh selaku menteri pendidikan mengisyaratkan tidak akan menutup sekolah tersebut. Sebab, UU Sisdiknas mengamanatkan supaya pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.

Hal itu disampaikan menteri pendidikan ketika meresmikan Taman Bacaan dan Balai Belajar Bersama di City of Tomorrow Surabaya, 30 Mei. Pak Nuh menyatakan pihaknya telah menerima keluhan masyarakat tentang relatif tingginya biaya pendidikan di RSBI, sehingga banyak anak miskin yang tidak mampu menikmatinya. Karena itu, Kementerian Pendidikan Nasional sudah merencanakan evaluasi terhadap keberadaan dan kinerja RSBI.

Kastanisasi Pendidikan

RSBI memang pantas disyukuri sekaligus dienggani masyarakat kita. Disyukuri karena proses pendidikan di RSBI relatif lebih baik daripada sekolah pada umumnya, sehingga (diharapkan) menghasilkan lulusan yang lebih berkualitas. Proses pendidikan di RSBI didukung sarana dan prasarana belajar yang lebih memadai, guru yang berpendidikan minimal magister, guru yang dapat berbahasa Inggris untuk semua pelajaran, perangkat ICT yang lebih komplet, dan sebagainya.

Read the rest of this entry »


Mengurai Masalah Guru (Swasta)

8 March 2010

Rabu, 19 November 2008 | 00:57 WIB

Oleh Doni Koesoema A

Persoalan nasib guru swasta yang merasa dianaktirikan dan diperlakukan tidak adil kian mencuat ke publik. Polarisasi antara guru swasta dan negeri sebenarnya bukan persoalan utama yang kita hadapi.

Masalah utama yang menjadi pangkal perdebatan adalah tidak adanya keseriusan pemerintah dalam menjaga dan melindungi martabat profesi guru, tidak peduli apakah itu guru negeri, swasta, tetap, maupun honorer.

Dua kekuatan

Sebenarnya, nasib guru lebih banyak ditentukan dua kekuatan, yaitu kekuatan negara dan kekuatan masyarakat. Kekuatan negara terhadap guru bersifat memaksa dan mengatur. Ini terjadi karena negara berkepentingan hanya mereka yang memiliki kompetensi dan layak mengajar di kelaslah yang boleh berdiri di depan kelas. Karena itu, negara mengatur berbagai macam kompetensi yang harus dimiliki guru sebelum mereka boleh mengajar di dalam kelas. Kualifikasi akademis, sertifikasi, kemampuan sosial, dan keterampilan pedagogis adalah hal-hal yang harus dikuasai guru. Berhadapan dengan aturan negara yang koersif ini, para guru tidak dapat berbuat apa-apa selain harus menyesuaikan diri. Sebab inilah satu-satunya cara agar profesi guru tetap berfungsi efektif dalam lembaga pendidikan. Read the rest of this entry »


Antara Profesionalitas dan Kesejahteraan

23 February 2010


[ Sabtu, 20 Februari 2010 ]Oleh: Sudjatmiko, wartawan Jawa PosSewaktu menjadi mahasiswa, saya sempat menyambi ngajar di sebuah SMA swasta di Jember. Di sela-sela kuliah itu, saya menyempatkan untuk memenuhi jadwal mengajar. Setidaknya tiga kali dalam seminggu saya harus datang ke sekolah itu.

Awalnya memang menyenangkan. Sebab, selain menambah pengalaman (kebetulan saya jurusan pendidikan fisika), juga untuk pengabdian sebuah sekolah swasta kecil di daerah. Namun, selama dua tahun itu pula muncul hal-hal tidak mengenakkan. Khususnya soal kebutuhan sebagai anak kos.

Suatu hari, saya tidak bisa berangkat mengajar. Persoalannya bukan karena terbentur kuliah atau karena sakit. Kebetulan, saat itu saya tidak punya uang sepeser pun untuk berangkat mengajar. Maklum, perjalanan untuk mengajar harus ditempuh dengan motor yang membutuhkan waktu 30 menit dari Kota Jember.
Read the rest of this entry »


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: