Kumpulan Artikel

Sejarah DPR

oleh  :  Hendri Ansori

Sekilas sejarah DPR-RI dapat dilihat dalam beberapa periode penting yaitu:
A. Volksraad (1918-1942)
B. Komite Nasional Indonesia Pusat (1945-1949)
C. DPR dan Senat Republik Indonesia Serikat (1949-1950)
D. Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (1950-1956)
E. DPR Hasil Pemilu 1955 (20 Maret 1956-22 Juli 1959)
F. DPR Hasil Pemilu 1955 Paska-Dekrit Presiden 1959 (1959-1965)
G. DPR Gotong Royong Tanpa Partai Komunis Indonesia (1965-1966)
H. DPR-GR Masa Transisi dari Orde Lama ke Orde Baru
I. DPR-GR Masa Orde Baru 1966-1971
J. DPR Hasil Pemilu 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997
K. DPR Hasil Pemilu 1999 (1999-2004)
L. DPR Hasil Pemilu 2004 (2004-2009)

A. Volksraad (1918-1942)Pada masa penjajahan Belanda, terdapat lembaga semacam
parlemen bentukan pemerintahan kolonial Belanda yang dinamakan Volksraad. Dibentuknya lembaga ini merupakan dampak gerakan nasional serta perubahan yang mendasar di seluruh dunia dengan selesainya Perang Dunia I (1914-1918).Volksraad dibentuk pada tanggal 16 Desember 1916 (Ind. Stb. No. 114 Tahun 1917) dengan dilakukannya penambahan bab baru yaitu Bab X dalam Regeerings Reglement 1954 yang mengatur tentang pembentukan Volksraad. Pembentukan tersebut baru terlaksana pada tahun 1918 oleh Gubernur Jeneral Mr. Graaf van Limburg Stirum.Kaum nasionalis moderat, seperti Mohammad Husni Thamrin, menggunakan Volksraad sebagai jalan untuk mencapai cita-cita Indonesia merdeka melalui jalan parlemen.Read the rest of this entry »

 Negara – negara Sebelum Kemerdekaan

Oleh : Hendri Ansori

Pada abad XIV dan XV dua Negara besar yang mendominasi pada periode ini yaitu Majapahit Jawa Timur dan Malaka di Malaya, Majapahit adalah Negara terbesar diantara Negara-negara yang ada di Indonesia sebelum datangnya Islam, Malaka mungkin merupakan kerajaan yang terbesar diantara kerajaan-kerajaan yang menganut agama islam. Keduanya melambangkan zaman peralihan di Indonesia pada abad tersebut. Sebelum membahas Majapahit dan Malaka, alangkah baiknya apabila kita terlebih dahulu membicarakan ciri-ciri umum dari Negara-negara yang ada di Indonesia sebelum masa penjajahan, tampak jelas bahwa ciri-ciri umum tertentu dari Negara yang ada di Indonesia tidaklah berubah selama beberapa abad. Khususnya, kondisi tanah dan iklim di daerah tersebut menciptakan pengaruh penting, bukan hanya terhadap pertanian dan perdagangan, melainkan juga terhadap formasi Negara.

Jawa mampunyai sederetan gunung berapi yang berjajar dari timur ke baarat di sepanjang pulau itu. Gunung-gunng dan dataran-dataran tinggi lainnya membantu memisahkan wilayah pedalaman menjadi kawasan-kawasan yang relakatif terpencil yang sangat cocok bagi persawahan. Daerah-daerah padi di jawa itu merupakan salah satu yang terkaya di dunia. Jalur-jaur perhubungan di utama di jawa adalah sungai-sungai yang sebagian besarnya relitif pendek-pendek. Sungai-sungai yang paling cocok untuk hubungan jarak jauh hanyalah sunga brantas dan bengawan solo, dan tidak mengherankan apabila lembah-lembah kedua sungai tersebut menjadi pusat-pusat kerajaan besar. Pulau jawa terdiri atas kelompok-kelompok penduduk yang relative terpisah satu sama lainnya. Penduduk jawa pada abad tersebut tidak diketahui, namun beberapa sumber menyebutkan penduduk jawa saat itu kira lima juta pada abad XIII, namun dengan ukuran abad XXI jawa tetap berpenduduk sangat jarang, sehingga banyak daerah yang tidak berpenduduk.

Read the rest of this entry »


Bila Saya jadi Anda

Oleh Riswandha Imawan*

Bangsa lain selalu iri tetapi nelangsa melihat Indonesia. Katanya, Indonesia memiliki segalanya untuk menjadi negara maju dan modern, kecuali pemimpin. Memang banyak pemimpin yang kita miliki, tetapi hanya segelintir yang paham makna “memimpin”. Bahkan, banyak yang heran, takjub, kok tiba-tiba dia bisa menjadi pemimpin.

Lewat karya klasiknya, Leadership (1978), James Burns menerangkan, ada orang yang terlahir sebagai pemimpin, ada pula yang dibuat menjadi pemimpin. Kategori pertama merujuk pada orang yang bakatnya memimpin, yang lahir dan besar dari dinamika kehidupan masyarakat. Contohnya, generasi Bung Karno.

Kategori kedua merujuk pada orang yang lewat mekanisme sekolah dibentuk menjadi pemimpin. Dia tidak pernah secara langsung berhubungan dengan dinamika masyarakat. Hingga sekalipun dia memimpin, berdeklamasi sangat paham akan derita rakyat sampai ke lubuk hati terdalam, sebenarnya dia tidak paham akan kata-kata yang diucapkannya.

Mayoritas pemimpin kita saat ini datang dari kategori kedua. Mereka tidak pernah menjadi rakyat dalam arti yang sesungguhnya. Terlahir sebagai anak orang berada, sekolah khusus untuk kalangan kelas atas, lalu dijadikan pemimpin karena ijazah yang digenggamnya. Masih lumayan kalau dia aktif dalam aktivitas sosial selama masa pendidikan.

Karya Hughes, Ginnett, dan Curphy, Leadership: Enhancing the Lessons of Experience (1999), menegaskan pentingnya orang bergelut dengan dinamika rakyatnya sebelum memimpin agar dia tidak hidup dibuai mimpi indahnya sendiri. Dengan cara ini, empati akan tumbuh karena setiap saat dalam otaknya terngiang kalimat: If I were you (bila saya jadi anda).

Bila tidak, maka pemimpin akan terseret ke dalam gaya kehidupan selebriti, senang disanjung, dan hobi membesarkan diri melebihi kapasitasnya (megalomania).

***

Bangsa Indonesia, khususnya etnis Jawa, memiliki nasihat serupa. Konsep rumangsa dengan cantik mengemas makna if I were you. Demikian pula dengan suku-suku bangsa lain di bumi pertiwi ini. Hingga sebetulnya secara filosofis tidak mungkin ada pemimpin di Indonesia yang tidak mampu berempati, ngrumangsani, terhadap kesulitan rakyatnya.

Tapi, ketidakmungkinan itulah yang justru terjadi. Saat ini, kesusahan dan keresahan rakyat tidak nyambung dengan pencitraan pemimpin yang serba hebat, glorious. Pemimpin kita lebih suka menerima (lebih tepatnya memburu) gelar dan penghargaan ke mancanegara daripada berpikir mengenai rakyat yang kelaparan, yang rumah dan hartanya rata tersapu tanah longsor, yang kondisinya ibarat hidup segan mati pun tak mau gara-gara terimpit kenaikan harga BBM, harga kebutuhan pokok, TDL, telepon, dsb. Mereka hanya isa rasa namung ora isa rumangsa. Sebuah penilaian yang nyelekit, yang tidak layak diterima oleh seorang pemimpin.  Read the rest of this entry »


ARTI PENTING SEJARAH

Pidato Pramoedya Ananta Toer pada peluncuran ulang

Media Kerja Budaya

14 Juli 1999 di Aula Perpustakaan Nasional

Para hadirin yang terhormat,

Sebetulnya apa yang saya katakan dalam 10 tahun ini sudah sering saya katakan secara lisan. Sekarang saya sampaikan lagi secara lisan.

Pertamakali tentang negara kita adalah negara maritim terdiri dari belasan ribu pulau tetapi mengapa diduduki oleh Angkatan Darat. Dari bupati kadang-kadang sampai kepala desa. Mengapa ini bisa terjadi. Ini adalah kesalahan historis. Kesalahan lain dengan kekeliruan. Kesalahan berasal dari sudah dari otak, kalau keliru itu adalah salah dalam pelaksanaan teknis. Kenapa terjadi kesalahan ini?

Dalam abad ke 16 Indonesia dikuasai oleh Portugis. Portugis menamakan Indonesia, India Portugis. Portugis dihalau Belanda, menamakan Indonesia, Hindia Belanda. Kenapa kata Hindia dipergunakan? Karena dalam abad ke 16 itu dunia Barat mencari rempah-rempah. Dan rempah-rempah itu mereknya Hindia. Padahal asalnya dari Maluku dan Aceh (Sumatra) itu sebabnya terbawa-bawa terus nama India dan sampai sekarang pun kita belum pernah mengkoreksinya, nanti akan menyambung.

Pada waktu Belanda menguasai Indonesia menjadi kekuasaan maritim di dunia. VOC ini, Serikat Dagang Belanda yang membangun imperium maritim terbesar di dunia dengan ibukotanya Batavia. Dan Batavia ini menyebabkan lahirnya Java-centrisme, semua diukur untuk kepentingan Jawa. Jadi VOC itu mengirimkan pembunuh keluar Jawa untuk menundukkan luar Jawa. Dari Luar Jawa membawa harta di bawa ke Jawa. Ini Perbuatan VOC. Tetapi kemudian VOC bangkrut, kapal-kapalnya pada tenggelam karena korupsi para pejabat, dengan mengangkuti barang-barang berlebihan. Bangkrut VOC, kemudian muncul pemerintah Hindia Belanda, karena sudah tidak mempunyai kekuasaan laut lagi.

Pertahanan Hindia Belanda itu didasarkan pada pada pertahanan Darat. Dan pertahanan Darat dipertahankan sistemnya pada sekarang ini. Padahal sistem pertahanan Indonesia harus pertahananan laut. Salah satu bukti kelemahan pertahanan Darat untuk negara maritim. Pada tahun 1812, waktu Hindia Belanda dikurung oleh Inggris dari laut, dalam beberapa hari angkat tangan. Waktu diserang oleh Jepang pada 1942 dalam beberapa hari juga angkat tangan. Jadi kalau itu diteruskan sampai sekarang, itu bukan lagi kekeliruan, tetapi kesalahan. Persoalannya adalah keberanian untuk mengkoreksi kesalahan. Keberanian tidaknya itu terserah kepada angkatan muda yang belum terpakukan pada sebuah sistem.  Read the rest of this entry »


Perempuan dan Islam

oleh *Medi Bilem pada 18 Desember 2010 jam 4:34

Seorang temanku kemarin bertanya kepadaku “ cak Medi, kata dosenku Islam adalah agama yang memuliakan perempuan, benar ta cak? Padahal di Islam poligami dibolehkan, lalu perbuatan poligami apa yo bisa dikategorikan masuk ke memuliakan perempuan?”

Sebentar aku diam, lalu kujawab “ bukannya tak bisa kujawab pertanyaanmu itu dengan jawaban ya benar atau tidak itu salah, tapi mari kita berkeliling berputar-putar di banyak sudut lalu mungkin kau bisa memilih jawaban atas pertanyaanmu itu sendiri.”

Nah, inilah jawabanku…

Apakah Islam memuliakan perempuan? Akan banyak perdebatan disini jika kujawab langsung, dan karena ada sebuah agama kau bawa maka kemungkinan perdebatan ini menjadi “menyakitkan” adalah sebuah kemungkinan yang besar karena perbincangan untuk menilai satu hal dari agama (terlebih di Indonesia) adalah termasuk sensitif.

Gimana kalo kujawab Islam memuliakan sosok ibu. Ada perdebatan disini? Mungkin tidak, tapi mungkin juga ada tapi lebih minimal bukan? Aku tak perlu menuliskan ayat-ayat dalam Alqur’an maupun hadist-hadist umat islam tentang hal ini, tapi kukira sepanjang yang kuketahui, tak ada satu butir dalam ajaran islam yang memperbolehkan menghinakan ibu. Bahkan saat berselisih pendapat di titik yang paling fundamental pun (aqidah), paling jauh yang diijinkan oleh islam adalah meninggalkannya dengan ma’ruf atau dengan cara yang baik dalam arti tidak menyakiti baik secara fisik, verbal maupun bentuk yang lain. Apakah jawabanku ini mencukupi untukmu kawan? Ataukah belum?

Tak puas rupanya kau, kau tetap gigih menanyakan pertanyaan awal tadi rupanya. Untuk pertanyaanmu ini, aku memilih diam. Bukan berarti aku tak bisa, tapi salah satu jawabanku aku khawatir akan menyakiti kawan-kawanku, dan aku yakin jawaban ini juga akan membawa pada menyakiti teman-temanmu juga. Untuk mereka yang tidak memandang bahwa islam adalah satu-satunya kebenaran, bahwa islam adalah hanyalah sebuah tawaran jalan pemikiran, bahwa kebenaran mutlak yang didengungkan agama itu tidaklah ada tetapi bahwa kebenaran adalah dialektika, jawaban bahwa islam memuliakan perempuan adalah sebuah pandangan buta tanpa melihat realitas dan tanpa landasan berfikir yang obyektif. Adanya kebolehan lelaki untuk menikahi lebih dari satu perempuan sementara perempuan dilarang yang sebaliknya, kebolehan hak lelaki untuk melakukan tindakan fisik (pemukulan) atas perempuan (suami terhadap istri) jika dia bersalah dengan perkataan “asalkan tidak di wajah dan dengan lembut” sementara hak demikian tidak ada pada perempuan, kiranya sedikit dari contoh jawaban mereka. Dari pandangan mereka yang gigih memperjuangkan hak-hak perempuan atas sistem patriarki, akan bisa kau lihat bahwa pertanyaanmu itu akan menemui satu jawaban bulat, TIDAK!!

Read the rest of this entry »


Sex/Menikah

Oleh :Medi Bilem

Si fulan,mantan pemanjat tebing yang kelingkingnya kusimpan dalam botol selai itu, kini telah menjadi langgananku di Bandung.Ia terpaksa pensiun karena menikah dan harus menghidupi istri-anak.Kini ia membangun kalsium keluarga dari hasil berjualan alat-alat olah raga petualangan dan handpon.Memang apa arti suami selain menjadi tulang punggung istri-anak?Kubilang istri-anak,bukan anak-istri sebab perempuanlah yang datang lebih dulu,baru anak.Pacar adalah jebakan pertama.Mereka kita pacari,lalu mereka minta dinikahi.Setelah itu mereka mengeluarkan anak.Mereka bilang bahwa mereka ingin bulan madu satu dua tahun tanpa anak.Tapi,sesungguhnya,mereka berada dalam kekuasaan makhluk ubur-ubur berbentuk buah pir dengan dua tangan-tangan tipis melambai yang semayam di perut mereka.Makhluk ini bernama monster ubur-ubur atau monster gelembung.Monster inilah kawan,yang menciptakan kita semua.Kata-kata manis perempuan pada kita,kemanjaan-kemanjaan kecil yang imut,kerjapan mata dan lenguhan mereka yang maut itu sesungguhnya hanyalah pemenuhan perintah dari sang monster.Mereka sendiri tak sadar itu.Monster ubur-ubur itu berdenyut dan haus untuk menggelembungkan diri.Tampaknya,kenikmatan si monster adalah menggelembungkan diri.Untuk menggelembungkan diri,si monster membutuhkan sedikit saja makanan pemicu.Yaitu,kecebong sperma kita!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: