O P T I M I S M E . . . ???

9870343-optimisme-de-pointeur-le-pessimisme-realisme-contre-le-ciel-3d

Oleh : Iwan Soebakree*)

Dalam sebuah acara dialog di televisi dengan tema calon wakil rakyat yang berkualitas, Fadjroel Rahman (Seorang Peneliti, penulis, dan pengamat politik) mengatakan bahwa dia akan selalu optimis, bahwa dia adalah manusia yang akan senantiasa optimis meskipun saat ini kebanyakan calon-calon wakil rakyat yang diajukan oleh partai-partai yang ada itu lebih menekankan selebritas daripada kualitas. Dia masih melihat bahwa di hamparan batu itu, masih ada mutiara-mutiara di dalamnya. Masih ada dari mereka yang berkualitas yang nantinya akan memperbaiki negara ini di masa depan.

Optimisme.. Optimisme.. ! Kata-kata itu menggaung dan menggema di telinga. Kata anak-anak gaul optimisme itu “cemungud…..!”. Namun, seketika itu juga melayang bayangan-bayangan realitas saat ini, menari-nari dalam otak-otak yang galau. Dan tak ayal lagi, sebuah pernyataan berbau resisten langsung muncrat, Apa’an Optimis..?? Pemerintah kita yang oleng itu sudah memutuskan BBM naik. Setelah itu harga barang, sembako, dan lain-lain pun naik, karena biaya produksi dan distribusi juga naik. Ongkos angkutan umum naik pula. Bah.. mau optimis dari mana bung? Kata iklan, “Tanya kenapa?”

Seorang mahasiswa menulis sebuah status ungkapan kekecewaannya dalam jejaring sosial. Saat mereka berdemonstrasi menolak kenaikan harga BBM, memenuhi badan jalan, dengan semangat ’45 dan mengatakan bahwa mereka berjuang untuk rakyat. Namun bukan sambutan tanda jempol yang ada, atau sebuah teriakan “Hidup Mahasiswa, Merdeka..!” dengan suara lantang, tetapi yang mereka dapat adalah cercaan dan umpatan dari para pengendara motor, wajah-wajah sinis dari balik kaca mobil-mobil pribadi, atau juga geleng-geleng kepala dari sopir truk sayur, bis kota, dan lain-lain yang kepanasan dan pegal kaki dan tangannya karena terlalu sering menginjak pedal dan menekan kopling kendaraan.

“Maka ijinkanlah saya bertanya kepada mereka yang bertanya, APA YANG TELAH PEMERINTAH BERI SEHINGGA KALIAN BEGITU TERLENA????  Begitu bunyi yang dia tulis dalam status itu. Coba kita lihat dari dua baris tulisan di atas, sebuah “Optimis” kah itu? Yakin pasti bukan. Lebih mirip dengan sebuah gambaran otak-otak frustasi dengan kondisi yang ada. Kondisi yang tak sesuai dengan harapan awal tentang kemakmuran di republik ini. Tak ada harapan di situ ataupun meski ada, tetapi tipis. Mari lebih diperluas lagi. Bukan hanya kenaikan BBM. Mari bayangkan para korban lumpur lapindo yang tak jelas hingga kini, atau koruptor milyaran rupiah yang hanya dihukum ringan dan begitu keluar tetap bisa hidup enak dengan uang korupsinya. Mungkin juga Anggota-Anggota DPR gadungan yang senantiasa bicara mewakili rakyat padahal mereka sebenarnya lebih mirip tukang garong duit rakyat. Terakhir pernyataan dari Presiden kita yang berkata,”Kenaikan BBM ini adalah demi rakyat”. Rakyat yang mana bos..? Dan apabila itu semua dikatakan sebuah “Pesimisme” kuatirnya akan muncul protes terhadap tulisan ini. Karena toh beberapa hari kemudian sebuah status baru dari mahasiswa tadi muncul dengan semangat yang menyala-nyala, ”semangat kawan” truz berjuang melawan penjajahan modern yg diterapkan pemerintah.”dst.

Namun, di antara orang-orang yang frustasi itu ternyata ada yang menanggapinya dengan cara yang berbeda. BBM naik, barang-barang naik, ongkos angkutan naik, ya artinya harus lebih keras lagi bekerja kawan. Gitu aja kok repot..! Mungkin manusia-manusia seperti inilah yang bisa dikatakan manusia yang optimis. Bukan begitu? Mereka tak mau mengeluh. Berapapun harga BBM yang naik, mereka tak terlalu memusingkannya. “Hidup adalah perjuangan”, “Selama kita berusaha untuk hidup, maka disitu pasti ada jalan” dan lain sebagainya.

Kalimat-kalimat seperti itu yang mungkin akan mereka katakan. Kemudian Mereka akan selalu menjawabnya dengan optimis dan bekerja lebih giat lagi. Bekerja lebih keras lagi. Akan tetapi, mereka lupa satu hal bahwa bekerja keras itu bukan bekerja dengan kondisi yang biasa (biasanya buruh 8 jam sehari), apalagi bekerja lebih keras lagi (berangkat pagi pulang malam). Sehingga tanpa sadar, mereka bekerja terlalu keras sampai serasa patah tulang belakangnya. Mereka lupa bahwa tubuh-tubuh mereka bukan superman. Mereka akan beranjak menurun kemampuan kerjanya dan menjadi manusia bungkuk di masa tuanya. Saat mereka merasa merasakan kesakitan disekujur tubuhnya, muncul empati dari anak-anaknya, ”Kasihan bapak, karena bekerja terlalu keras, sudah bungkuk sakit-sakitan pula”. Ah.. memang kasihan bapak itu. Bukan begitu kawan?

Apapun yang terjadi, orang-orang bijak berkata, ”Life Must Go On.” Bahwa suka atau tidak suka, hidup akan terus berjalan. Termasuk kelangsungan republik ini ke depan. Adalah Soe Hok Gie yang lebih baik terasing daripada menyerah pada kemunafikan (akhirnya benar-benar hidup terasing), kemudian sering ke gunung dan akhirnya mati di Semeru, atau Ayu Utami seorang novelis yang sedih karena lahir di Indonesia tapi sekaligus mencintainya (pengantar dalam salah satu novelnya), atau malah yang lebih ngeri lagi sebutan “Negeri para Bedebah” nya Adrie Masardie. Nah lho..!

Memang tak mudah untuk menjalankan optimisme ala Bung Fadjroel itu. Dari sejak kemerdekaan hingga sekarang, negeri ini masih berjalan tertatih-tatih untuk mewujudkan cita-cita yang bernama kemakmuran Indonesia. Namun, ditengah-tengah itu semua, optimisme bung Fadjroel tetap harus dihargai. Semangat dari mahasiswa yang menulis status itu juga harus tetap diacungi jempol. Indonesia memang masih belum makmur, tapi bukan berarti kemakmuran itu tak akan pernah tercapai. Siapa lagi yang harus berjuang untuk kemakmuran itu kalau bukan bangsa Indonesia sendiri. Selama perjuangan itu terus berjalan, bakal ada generasi-generasi yang akan memakmurkan Indonesia kelak. Dan pada saat itulah, kita dari generasi sekarang ini, akan menikmati hari tua dengan tenang dan mati di negeri sendiri dengan sebuah senyuman bahagia di wajah kita sembari berbisik,

”Tugas kita sudah selesai.”

*****

*) pengajar partikelir di sebuah lembaga pendidikan swasta di Surabaya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: