RUMAH DAN HUGO CHAVEZ

chavez

Oleh : Iwan Soebakree

Hari itu, 6 Maret 2013, aku baca koran. Di berita utama tertulis judul sebuah berita, “Presiden Kontroversial itu Telah Pergi. Yup… Pada Selasa 5 Maret 2013, Hugo Chavez, sang presiden dari Venezuela yang terkenal anti Amerika itu telah meninggal karena sakit yang di deritanya. Saat aku membuka facebook, di beranda, aku lihat beberapa postingan status yang di situ tertulis pernyataan belasungkawa dan simpati yang mendalam atas kepergian sang presiden tersebut. Dan di postingan status lain, tertulis agak panjang seperti di bawah ini :

 

 “SEKBER BURUH mengajak semua kawan-kawan serikat buruh, serikat tani, serikat perempuan, mahasiswa/i, dan seluruh masyarakat untuk turut dalam Aksi Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Rakyat Venezuela–sekaligus duka cita mendalam atas meninggalnya Hugo Chavez–Aksi ini akan dilakukan nanti malam, jam 20.00 di Bunderan Hotel Indonesia dalam bentuk Aksi Seribu Lilin. Diharapkan semua kawan membawa lilin dan membawa poster (atau foto, gambar, kaos, topi) Hugo Chevez.

 

Sebegitu besarnya seorang Hugo Chavez di mata orang-orang ini, hingga banyak yang merasa kehilangan dan memberikan penghormatan yang sangat luar biasa untuknya.

Harusnya dari dulu aku tulis tentang hal ini. Jadi apabila tulisan ini dikaitkan dengan syarat aktual, maka tulisan ini pastilah sangat tidak aktual sama sekali. Namun, aku rasa tak ada masalah dengan itu. karena aku juga ingin mengabadikan sesuatu tentang Chavez dalam tulisan, meskipun hanya sekelumit tulisan yang mungkin tak berarti.

Sebelumnya, Aku pernah membaca sebuah artikel di internet. Judulnya “Venezuela Tutup Tahun 2011 Dengan Bagikan Rumah Baru Untuk Rakyat”. Sebanyak 200 ribuan rumah diberikan kepada rakyat Venezuela dengan subsidi 100%. Bayangkan kawan, dua ratus ribu rumah gratiss…tiss…! Nah.. Bagaimana dengan kondisi di sini? Di Indonesia yang katanya negara yang kaya ini?

Ngomong-ngomong soal rumah, anda bisa membandingkannya sendiri dengan sedikit pengalaman yang aku alami dan mungkin juga dialami oleh jutaan rakyat Indonesia hingga saat ini. Aku saja harus berjibaku habis-habisan untuk mendapatkan yang namanya rumah. Segala daya dan energi ku sebagian besar tersedot pada perkara rumah itu. Dan ini akan aku alami sampai 15 tahun ke depan. Silahkan anda bayangkan sendiri. 15 tahun hanya untuk memiliki sebuah rumah. Benar-benar waktu yang lama bukan?

Memang di Indonesia pernah ada program rumah murah bersubsidi. Masih ingatkan program RSS? RSS atau “Rumah Sangat Sederhana”. Yup.. Pemerintah Indonesia hanya sanggup (Mampu atau Tak Mau?) menyediakan rumah murah (Tapi tetap cicilan 10-15 tahun). Kondisinya? Jangan berpikir kalau RSS ini sebuah rumah layak kayak iklan di televisi. Sampai – sampai muncul ungkapan “Murah Njaluk Selamet?” (Murah Minta Enak), yang intinya kalau pengen rumah bagus ya kudu banyak duit. Kalau ndak punya duit, ya terima aja itu RSS. Gurauan lainnya ada yang menyebut RSS ini dengan “RS7…. (Rumah Sangat Sederhana Sampai – Sampai Selonjor Saja Sulit). Sebuah bentuk resistensi simbolik verbal, pertanda bahwa pemerintah masih belum mau memperhatikan nasib rakyatnya khususnya soal rumah untuk rakyat.

Mungkin aku masih beruntung karena masih mampu untuk kredit rumah. Tapi ada dari mereka rakyat Indonesia yang kurang beruntung, sehingga mereka harus mendompleng di rumah orang tua atau mertua mereka dalam waktu lama sampai itu rumah diwariskan. Atau malah lebih celaka lagi mereka yang tak pernah punya kesempatan sama sekali untuk rumah itu, karena kemiskinan yang akut. Merekalah para gelandangan yang kemudian tinggal di kolong-kolong jembatan, dalam gubuk-gubuk liar yang sebenarnya tak layak huni. Karena itu, asli aku benar-benar iri. Kenapa kok di Indonesia gak kayak Venezuela ya…?? (Aku kira Anda pasti sudah bisa mereka-reka apa jawabannya).

Dari sini aku yakin anda semua, sudah bisa menyimpulkan mengapa penghormatan kepada Hugo Chavez begitu besar. Hugo Chavez yang pro rakyat dan dicintai rakyatnya. Maka tak heran, di negaranya sendiri air mata pun luruh dari jutaan rakyat Venezuela saat kepergian sang Pemimpin itu. Pada saat ini,  Aku dan jutaan rakyat miskin Indonesia masih datangnya pemimpin seperti Hugo Chavez.

 

Selamat jalan Kamerad!!

Kami disini masih menunggu.

Meskipun, Entah sampai kapan ….!!

 

Surabaya, 25 Maret 2013

2 Responses to RUMAH DAN HUGO CHAVEZ

  1. aditya says:

    yah hugo seorang yang hebat pak… gone but not forgotten.
    pak saya ingin berdiskusi hehehe sekalian mau mina ajarin cara ngeblog, mohon revisi blog saya pak hahaha ( dionambon.blogspot.com )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: