“ULANG TAHUN”

 tr

Oleh : Iwan Soebakree*

Dua hari lagi,  tanggal 27 Februari. Dua Tahun yang lalu, tanggal yang sama, engkau lahir ke dunia ini. Lengkap  dengan segala pengharapan atas kehadiranmu di tengah-tengah kami, Aku dan Ibumu (Baca : Idayu dan Perempuan Masa Depan Indonesia).

Kamu tahu nak, banyak orang yang bilang kalau Hari kelahiran (Hari Ulang Tahun) itu, adalah salah satu momentum besar. Hal ini kemudian diwujudkan dengan mengadakan pesta yang meriah, perayaan, nyanyi-nyanyi, makan-makan, tiup lilin seraya berdoa supaya keberuntungan dan kebahagiaan menyertai. Kemarin-kemarin, ibu kamu juga pernah cerita kalau dapat undangan perayaan ulang tahun salah satu anak tetangga. Ya yang pastinya kamu gak bakal mengerti kejadian apa yang ada di situ. Karena kamu masih berumur satu tahun. Tapi pastinya kamu pulang dengan membawa kotak yang isinya jajan-jajan beraneka warna. Sedap kan? Dan karena kamu masih kecil dan belum saatnya makan-makanan yang seperti itu, ya jajan-jajan itu yang habiskan ya ibu mu ma ayah. Jangan marah ya nak. Heheheh..!

Mungkin satu saat nanti, ketika engkau telah mengerti apa itu perayaan ulang tahun, kamu pasti akan bertanya kenapa ulang tahunmu gak pernah dirayakan. Nah mungkin hari ini, mendekati ulang tahun mu yang ke-2, ayah sedikit tuliskan jawaban apabila kelak pertanyaan ini keluar dari mulutmu sendiri. Harusnya ayah membuat tulisan ini setahun yang lalu, saat kamu berumur satu tahun. Tapi saat itu tidak ayah lakukan. Kesibukan bekerja membuat ayah lupa. Tapi bisa jadi juga karena ayah punya pandangan berbeda tentang ulang tahun itu. Ayah minta maaf untuk itu.

Seumur-umur Ayah gak pernah merasakan yang namanya perayaan ulang tahun. Mbah Wi (Kakek) dan Mbah Uti mu (Nenek) gak pernah mengenalkan itu sama ayah. Ayah kurang tahu kenapa, tapi menurut ayah mungkin karena ketiadaberdayaan mbah Wi dan Mbah Utimu. Dulu, yang namanya pesta ulang tahun, memang identik dengan budaya orang kaya. Budaya orang-orang berduit. Dan mbah Wi dan Mbah Utimu gak bisa menjangkau itu. Mbah Wi memang bukan orang berada. Ayahmu dulu hidup dalam kondisi yang serba pas-pasan. Bahkan dulu ayah pernah makan nasi, dicampur parutan kelapa dan sedikit garam. Asin tapi saat itu terasa nikmat buat ayah. Apakah hal itu yang disebut dengan menikmati kemiskinan, ayah juga gak tahu. Yang pasti, karena kondisi itu, berakibat ayah merasa bahwa ulang tahun adalah sesuatu yang gak terlalu penting.

Pandangan ayah tentang itu, terus bertahan. Ayah kadang juga sampai lupa ulang tahun ayah sendiri. Bahkan ulang tahun ibumu pun ayah pernah lupa. Hingga hari ini ayah berpikir, kalau tak patut engkau merasakan yang ayah alami. Ayah tetap ingin kamu punya pandangan bahwa hari ulang tahun adalah momentum besar yang pantas untuk diperingati. Sama besarnya dengan hari ulang tahun negeri tempat kamu hidup. Karena itu tiap tanggal 17 Agustus yang merupakan hari lahir nya bangsa Ini selalu dirayakan.

Namun, ayah tidak ingin kamu memaknai momentum ulang tahunmu sama dengan yang dilakukan oleh orang-orang disekitarmu. Yang cenderung hura-hura, pesta-pesta dan menghambur-hamburkan uang. Kalau toh memang ada perayaan boleh-boleh saja. Namun janganlah berlebihan dan mengada-adakan yang tak sesuai dengan kemampuan. Malah menurut Ayah, justru yang terpenting dari momentum ulang tahunmu, adalah dengan kamu maknai dengan evaluasi dan koreksi diri. Kenapa ayah katakan ini, nak? yaitu supaya kamu nantinya siap dengan yang ayah sebut “transformasi” (Perubahan) dalam perjalanan hidupmu. Dunia ini keras nak. Ayah bisa katakan itu karena ayah mengalaminya.

Dalam diskusi ayah dengan teman-teman, seseorang tak akan bisa merasakan, apabila kontradiksi (pertentangan keinginan dan realitas) itu tidak dia alami sendiri. Karena itu Ayah hanya bisa menginformasikan sama kamu apa yang ayah sudah alami. Dan nantinya, kamu sendiri yang akan menjalani kehidupan yang ayah katakan keras itu. Pada saat itu terjadi, ayah sangat berharap kamu siap dan berani mengambil keputusan yang terbaik buat hidupmu.

Mungkin sekedar coretan ini saja yang bisa ayah tuliskan, Nak. Nanti saat kau sudah bisa membaca sendiri kata demi kata yang ayah tulis di sini, ayah harap coba kamu pikirkan. Ayah tidak ingin memaksamu. Tapi ayah ingin semua berjalan dengan kesadaranmu sendiri. Ayah yakin, semua orang tua di dunia ini, pasti tidak menginginkan anaknya tak bahagia. Orang tua selalu ingin membahagiakan anak-anaknya. Tapi bagi ayah adalah salah pada saat keinginan itu bukan karena kesadaran dua belah pihak. Orang tua dan Anak. Karena kamu manusia yang mempunyai kehendak. Ayah menghormati itu, dan karenanya ayah ingin tidak ada sebuah paksaan apapun disini.

Semoga kamu bisa memahami apa yang ayah katakan…!

 05072012(001)

Selamat Ulang Tahun yang ke- 2, Nak..!”

“Semoga kebahagiaan dan kesempurnaan hidup selalu tercurah Untukmu”

 Surabaya, 25 Februari 2013

Buat anakku Idayu Livi Firdausi

Salam Cinta dan Sayang selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: