KESAKITAN

eyesclown

Oleh : Iwan Soebakree*

 

Tanggal 18 Desember 2012, mendekati tahun baru. Aku kembali duduk termenung di sini. Di sebuah bangku rumah sakit yang sama saat Idayu dilahirkan 2 tahun lalu. Bedanya saat ini aku menunggui Idayu sedang terkulai lemah dan sedikit rewel karena sakitnya. Bakteri “Salmonella typhi” telah menginfeksi dalam tubuhnya. Setelah sebuah jarum infus menancap di punggung tangannya, aku berbisik,”Kuatkan dirimu ya nak…!”. Ayah di sini bersamamu. Ayah memang tidak akan bisa merasakan sakit yang sama dengan sakitmu. Sakit yang kamu rasakan sewaktu jarum infus menembus kulitmu. Namun yakinlah, di dalam dada ayah, dalam hati yang paling dalam ayah juga kesakitan. Kesakitan karena hanya bisa memberikan pelayanan kelas dua untuk perawatan sakitmu. Kesakitan karena ayah tak mampu memberikan yang terbaik buatmu. “Maafkan ayah ya nak…!”

Hari itu, pertama kali si kecil masuk rumah sakit sejak kelahirannya. Begitu dokter selesai memeriksa dan merekomendasikan untuk rawat inap, di meja recepcionist sebuah layar komputer dihadapkan di depan wajahku. “Bapak ingin memilih fasilitas perawatan yang mana pak? Di sini kami menyediakan perawatan VVIP, VIP, kelas 1, kelas 2 dan kelas 3”, seorang tenaga administrasi rumah sakit menjelaskan kepadaku. Brengsek…. Untuk perawatan pasien saja, layaknya memesan sebuah kamar hotel. Petugas tadi memaparkan pula biaya yang harus dikeluarkan setiap kelas yang ada sesuai yang terpampang di layar monitor. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk anakku. Namun karena kondisi keuangan yang ada tidak memungkinkan, dengan berat hati, aku berucap lirih,”Kelas II saja mbak.”

Kekhawatiran biaya yang bakal aku keluarkan untuk perawatan si kecil terbayang-bayang dikepalaku. Ah… aku sadar benar. Ternyata benar kiranya, kalau di negeri ini, orang miskin di larang sakit. Karena kesakitan yang dialami, juga tidak hanya dirasakan si sakit, tapi juga keluarga si sakit. Wajah-wajah suram mereka pasien kelas bawah terlihat jelas di mataku. Wajah-wajah kesakitan seperti yang aku rasakan saat itu. Hal ini berbeda dengan mereka pasien VIP dan VVIP. Mereka memang mengkhawatirkan si sakit, tapi mereka tak kuatir dengan biaya yang akan mereka keluarkan.

Lima hari aku temani si kecil di rumah sakit itu. Tapi untunglah ada bantuan tak terduga dari tempatku mengajar. Lumayan bisa bantu buat biaya rumah sakit. Aku sedikit bisa bernafas lega. Karena si kecil sama sekali tak tercover dengan asuransi kesehatan, Jamkesmas, atau lainnya. Tapi apa bisa kita terus mengharapkan sebuah keberuntungan? Aku rasa fakta sudah banyak muncul. Di media ada dari mereka bahkan hingga si sakit meninggal, bantuan tak kunjung datang.

Jadi ingat sebuah berita, mereka yang kesakitan ini karena sakitnya di blow up di media, para pejabat datang untuk memberikan bantuannya. Pertanyaannya, kenapa mereka baru datang setelah diberitakan di media? Jawabnya sudah jelas. Pencitraan. Karena apabila mereka peka, tanpa di blow up media pun, mereka pasti tahu kalau ada warganya yang sakit parah. Ah… masih saja ada cerita seperti itu di negara yang katanya ber”KEADILAN SOSIAL” ini.

Desember akhir, pasca anakku keluar dari rumah sakit. Detik-detik ketika tahun baru menjelang. Semua yang ada terlihat bergembira. Bergembira dengan kedatangan sebuah tahun baru. Ada yang bilang kalau tahun baru, harapan baru. Sebuah harapan akan kehidupan yang lebih baik. Aku hanya bisa berharap semoga saja begitu. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan sehingga tak perlu masuk rumah sakit yang mahal itu. Sehingga yang terakses Jamkesmas, gak perlu lagi tambah kesakitan karena ngurus surat-surat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan.. dan seterusnya, yang bahkan kadang tega ditodong pula dengan administrasi meski hanya sepuluh atau dua puluh ribu. Dan di luar sana sayup-sayup aku dengar letusan kembang api  bersahut-sahutan menandai datangnya tahun baru 2013. Semoga….!!

 

Gresik, 1 Januari 2012

Sebuah catatan menjelang tahun baru 2013

 

*Pengurus Perpustakaan Bersama, Gresik dan Pengajar sekolah swasta di Surabaya

4 Responses to KESAKITAN

  1. yuni says:

    maklumlah pak…sekolahnya waktu itu untuk mendapat gelar dokter dengan biaya ratusan juta.
    yaa…untuk dapat mengembalikan lagi biaya sekolah dulu,dengan mendapatkan uang yg besar pula.
    Otomatis pengelolah rumah sakit juga harus mengenakan tarif tinggi untuk menggaji pegawai2nya yg dulu sekolah dengan biaya yg tinggi pula.

  2. Medi says:

    Ini bukan masalah dokter, kode etik dokter atau sekolah kedokteran yang mahal.
    Tapi akar masalah adalah kebijakan negara yang tidak berpihak pada rakyatnya karena mengabdi pada kepentingan asing, Kuba hanya menggaji dokternya kurang dari US $20, tetapi layanan kesehatan disana gratis, ditanggung negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: