BRANJANGAN

macet-jembatan-branjangan

Oleh : Iwan Soebakree

 

Jembatan itu, dulu teksturnya bergelombang. Kendaraan harus merambat pelan untuk melewatinya. Satu waktu, terdapat salah satu bagian jembatan yang jebol. Beberapa hari  kemudian, bagian itu ditambal, namun giliran bagian lain yang jebol. Mungkin itu jembatan tua, mungkin juga tidak (buah karya dari kontraktor nakal). Tiap hari, tiap jam kendaraan-kendaraan besar seperti trailer, truk gandeng dengan berbagai kendaraan dengan muatan yang berton-ton beratnya silih berganti melewati jembatan itu. Meski sudah ada peringatan yang dipasang (mungkin yang pasang Dishub), tetap saja kendaraan-kendaraan dengan acuh-tak acuh menjalankan kendaraannya melewatinya tanpa ampun. Semakin hari semakin banyak saja bagian-bagian jembatan yang jebol. Hingga suatu hari, sebuah alat berat nongkrong di pinggir jembatan. Kelihatannya mau diperbaiki dan semoga saja jembatan yang baru lebih kokoh dari sebelumnya.

Benar saja, besoknya, hanya satu sisi jembatan yang bisa dilewati. Dengan diberi sebuah tanda pembatas jalan, Kendaraan-kendaraan yang lewat, dari sisi timur dan barat jembatan, berjalan bergantian melewatinya. Kendaraan-kendaraan besar tidak diperbolehkan lewat jembatan itu lagi. Esoknya lagi satu sisi jembatan telah dihancurkan. Sejak saat itu resmi hanya satu jalur di atas jembatan itu yang bisa dilewati. Kendaraan yang lewat merambat dan semakin lambat karena harus berjejalan, dan bergiliran untuk bisa lewat. Sistem buka tutup yang diterapkan dan dibantu oleh warga sekitar, Tak ayal lagi, melewati jembatan itu, hampir sama seperti mengantri masuk kapal feri yang menyeberangi selat Madura. Antrinya lamaa…. Bos…!!

Siang itu hari senin. Bulan September. Cuaca cerah, malah bisa dikatakan sangat panas. Memang iklim di Surabaya saat itu sedang anomali. September yang seharusnya musim hujan malah kemarau. Volume kendaraan yang lewat jembatan itu sangat tinggi. Antrian kendaraan sampai meluber. Kendaraan yang mengantri untuk lewat, memanjang hingga lebih kurang 100 meter. Kepulan asap knalpot menyebar dan menyeruak mengacaukan indra penciuman. Ditambah dengan panas yang menyengat serasa dipanggang dalam oven. Keringat bercucuran membuat baju yang terselimuti jaket, basah dan terasa lembab di kulit. Tapi mau bagaimana lagi. Jembatan itu adalah satu-satunya akses menuju surabaya yang representatif. Terlalu jauh apabila mengambil jalur alternatif. Dan juga tidak mungkin untuk lewat tol. Akhirnya kata “sabar’ lah pilihan terakhir mereka untuk kondisi itu.

Namun, kata sabar untuk beberapa orang dari sekian ratus pengantri itu, pastilah sudah berganti menjadi sebuah kejengkelan. Meski tak terdengar, suara hati itu tidak akan bisa dibungkam. Hal ini terlihat dari wajah-wajah mereka. Sumpah serapah membahana dalam hati. Brengsek… Bedess…dan lain sebagainya. Tapi itu tidak keluar dari mulut-mulut mereka. Karena para penjaga portal yang notabene dari warga sekitar (swarkarsa) kadang mereka lebih galak dari polisi sekalipun. Dengan imbalan uang receh (sumbangan), mereka bak anjing penjaga yang siap menerkam mereka yang kedapatan tak tertib. Pernah ada sebuah truk besar yang nekat, kaca truk pecah berantakan. Bahkan kenek dan sopirnya juga hampir dianiaya, kalau saja polisi tidak segera datang dan mengamankan kenek dan sopir truk tadi.

Mereka semua yang sumpek, mereka semua yang merasakan kejengkelan yang memuncak karena kepanasan (mungkin sekarang juga kehujanan), tidak tahu lagi mesti bagaimana dengan kelelahan psikis yang mereka rasakan. Sebuah koran memuat sebuah berita bahwa perbaikan jembatan itu bakal memakan waktu hingga enam bulan, malah kemungkinan molor hinngga sembilan bulan. Artinya mereka para pengendara motor dari surabaya maupun gresik bakal mengalami kepanasan dan kehujanan hingga 9 bulan kedepan. Dan mereka yang di “atas” sana, apakah perduli dengan penderitaan mereka ini? Pasti Anda sudah tahu jawabannya.

“Kalau bisa dibikin rumit kenapa harus dibuat simple”. Sebuah idiom umum dalam birokrasi di negeri ini. Sehingga dalam hal perbaikan jembatan ini maka berlaku pula “Kalau bisa dibikin lama, kenapa dibikin cepat”. Karena semakin lama, maka anggaran yang turun juga semakin besar dan semakin besar pula bagian-bagian yang akan mereka (baca : pencoleng) terima. Di sisi lain, mereka yang kepanasan dan kehujanan itu, dengan kultur “neriman”nya (itulah kehebatan mereka) hanya bisa berkata,”Semoga jembatan itu cepat selesai”. Kemudian ada suara lirih yang menimpali,”Aminnn…..”.

Surabaya, 18 Desember 2012

*Guru Swasta di Sekolah Menengah Atas di Surabaya dan pengurus Perpustakaan Bersama, Gresik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: