PELANGI ITU, HILANG SATU WARNA

Oleh : Iwan Soebakre*

 

Barusan dengar cerita dari salah seorang siswaku yang sudah lulus. Ada temennya sekelas yang sebenarnya pada waktu tes penerimaan mahasiswa baru kemarin, dia bisa melanjutkan studinya di Universitas Indonesia. Namun, karena diminta biaya pendidikan sebesar 100 juta, dia terpaksa mengubur impiannya untuk bisa kuliah di tempat itu. Cerita lainnya terjadi setahun sebelumnya, ada siswi yang menurutku dia anak yang cerdas. Ini pun dibuktikan dengan dia yang selalu ranking teratas di kelasnya. Sewaktu penerimaan mahasiswa baru, dia menempuh jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Keterampilan) dan dia berkeinginan untuk masuk ke UNESA (dulu IKIP Surabaya). Mungkin dia ingin jadi guru. Dia lulus tes tersebut, namun tapi karena Ujian Nasional dia tidak lulus, keinginan untuk kuliah di tempat tersebut harus terkubur.

Jadi teringat aku dengan novelnya Andrea Hirata yang konon katanya adalah sebuah kisah nyata. 10 anak dengan segala ketidakberdayaannya, mereka berusaha keras untuk bisa bersekolah. Laskar Pelangi, begitulah Andrea Hirata memberi judul novel tersebut. Kenapa Andrea memberikan sebutan Laskar Pelangi pada kesepuluh anak itu? Yang muncul dalam benakku, adalah bahwa Pelangi itu berwarna-warni. Pelangi itu indah, Pelangi itu titik-titik dan lain sebagainya. Tapi ya sudahlah, toh yang bisa menjawab adalah Penulisnya sendiri. Aku hanya bisa berasumsi bahwa mereka semua, kesepuluh anak itu, mempunyai mimpi-mimpi yang indah tentang masa depan. Mimpi yang indah, seindah pelangi yang muncul dari dari garis cakrawala, berwarna-warni, menjulang tinggi, setinggi impian mereka.

Dalam novel itu, memang dengan semangat belajar yang pantang menyerah untuk meraih mimpi dan cita-cita, beberapa orang diantara mereka akhirnya mampu menggapai apa yang mereka inginkan. Pendeknya, mereka yang awalnya hanya anak-anak miskin, akhirnya bisa jadi “Orang”. Maharnya akhirnya menjadi seorang penulis. Kucai akhirnya menjadi anggota Dewan. Tokoh Ikal yang dilanjutkan kisahnya oleh Andrea Hirata dalam “Sang Pemimpi” akhirnya bisa berkuliah do Sorborne, Prancis dan berhasil menjadi sarjana Ekonomi. Bagi Ikal, Pelangi itu akhirnya berhasil dia kejar, dan dia dapat menikmati keindahannya.

Akan tetapi toh, ternyata tidak semua warna-warni pelangi itu akhirnya menjulang tinggi. Ada satu warna dalam jajaran warna pelangi itu, entah yang merah, atau jingga akhirnya meredup dan bahkan hilang. Warna yang hilang itu adalah Lintang. Dengan meninggalnya ayahnya sebagai tulang punggung keluarga, jaminan agar lintang tetap bisa terus sekolah akhirnya hilang oleh kehendak Tuhan. Lintang pun putus sekolah demi menafkahi adik-adiknya yang masih kecil.

Seorang Lintang, begitu juga siswa-siswaku yang sudah aku ceritakan di atas, meski berbeda kondisi, adalah warna-warna yang hilang dalam pelangi itu. Mereka adalah beberapa gambaran anak bangsa yang keinginannya tidak diakomodasi oleh negara yang katanya kaya raya ini. Mereka mungkin akhirnya sadar bahwa negeri ini ternyata tak seindah Pelangi. Mungkin juga mereka menyadari, pelangi di negeri ini telah hilang lenyap dan digantikan dengan awan hitam yang menggelayut di langit yang kemudian berubah menjadi badai dan meluluhlantakkan semua impian dan cita-cita mereka.

Adalah sesuatu hal yang menyakitkan bagiku melihat mereka, beberapa dari putra-putri negeri ini, yang akhirnya harus mengubur impian dan cita-citanya. Mereka harusnya bisa meraih cita-cita, karena para founding father kita telah mencantumkan kalimat “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” dalam tujuan negara. Akan tetapi faktanya, dari masa si Lintang yang putus sekolah, hingga hari ini, pemimpin-pemimpin kita di atas sana masih saja melakukan pengkhianatan pada tujuan negaranya sendiri. Aku tidak tahu, sampai kapan muncul lagi generasi penerus bangsa yang akhirnya akan bernasib sama dengan mereka. Sampai sejauh ini, akhirnya akupun bersepakat dengan ucapan seorang teman. Ini semua adalah salah “NEGARA”.

Gresik, 17 November 2012

*Guru Swasta dan Pengurus Perpustakaan Bersama, Gresik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: