“AMUK KALI INI”

“AMUK KALI INI”

(Iwan Soebakree)

 

Mungkin di antara tulisan-tulisan bertemakan amuk, amukku ini adalah yang ke sekian ratus kali, atau bahkan mungkin ke sekian ribu yang sudah dirasakan oleh orang lain. Dengan berbagai penyebab, kiranya rasa amukku ini pasti juga sama rasanya dengan amuk-amuk yang lain. Amuk oleh kawanku Ian yang anak Unmuh Gresik, atau mungkin amuk oleh kawanku, Sinta yang sampai menyematkan kata “Amuk” dalam nama anaknya. Sang ketua mungkin juga pernah merasakan amuk-amuk yang lebih tinggi kadarnya daripada aku. Soalnya barusan kemarin aku lihat sang ketua itu, sedang membalas sms dengan serius, dan tersirat ada rasa agak amuk dari cara dia menjawab sms tersebut. Amuk-amuk yang aku sebutkan adalah amuk yang aku saksikan secara langsung, dan aku yakin berjuta-juta amuk yang tidak aku lihat secara langsung juga terjadi.

Siang ini, aku menghadiri rapat dengan yayasan tempatku kerja ekonomi. Kesan formal, resmi dan “baik-baik saja”, itu yang aku rasakan. Kalimat-kalimat klise, samar, retoris yang tidak jelas untuk siapa dan anjuran-anjuran – seperti yang SBY lakukan dalam setiap pidatonya – yang aku rasa seperti sebuah harapan palsu. Karena tidak jelas masalahnya apa, salahnya dimana, siapa yang melakukan kesalahan, dan langkah yang dilakukan untuk menyelesaikannya, muncul berkali-kali. Jadi ingat kalimat kunci yang sering diucapkan oleh kawan-kawan perpustakaan bersama untuk hal yang gak jelas ini, “Gak material blassss…..!!”.

Namun diantara sekian sambutan-sambutan itu, aku apresiasi sambutan oleh Ibu Pembina Yayasan. Kalimat-kalimat yang beliau keluarkan – aku panggil beliau karena respeksi – membuat aku tersentuh. Beliau sudah berumur (79 tahun), dan aku yakin sudah kenyang dengan asam garam kehidupan. Beliau mengungkapkan pentingnya sebuah keterbukaan untuk menyelesaikan segala masalah yang ada ditempat kerja, dan dengan bukan kasak-kusuk dibelakang, yang mana hal itu justru membuat situasi kerja tidak nyaman. Saling curiga dan saling menjatuhkan. “Alangkah nikmatnya hidup apabila ditempat kerjapun kita menemukan kedamaian’, lanjut beliau.

Aku terharu mendengar wejangan-wejangan (nasihat-nasihat) beliau. Sebuah Wejangan yang cukup obyektif dari kaum-kaum tua yang lekat dengan kebijaksanaan. Suatu hal yang dulu pernah kualami dengan dari bapakku sendiri. Aku masih ingat, nasihat yang lemah lembut dibalik sifat bapakku yang keras. Dan kerap kali aku menangis dalam kesendirianku setelah mendengar nasihat-nasihatnya. Satu wejangan dari bapakku yang aku ingat hingga sekarang yaitu tentang keberanian dan harga diri. Beliau mengatakan bahwa apabila dengan Tuhan, jangan bicara tentang harga diri karena kita bukanlah apa-apa di hadapan Tuhan, akan tetapi apabila dengan sesama manusia, harga diri adalah sesuatu hal yang perlu dan harus ditegakkan supaya tidak dilecehkan orang lain. Aku mengamini nasihat itu, Bung Karno saja berani membawa Indonesia keluar dari PBB, karena PBB dianggap telah melecehkan harga diri bangsa Indonesia.

Tetapi, rasa haru yang aku rasakan dari nasihat ibu Pembina yayasan, sontak berubah menjadi sebuah amuk saat aku bicara dengan Si Bos setelah rapat selesai. Permohonan untuk memindahkan induk sekolah, dijawab dengan perbaikan dari kesalahan-kesalahan serta kinerja yang aku harus lakukan dahulu. Memang benar aku melakukan kesalahan dalam beberapa hal. Aku akui itu seraya meminta maaf. Akan tetapi ada yang aku sangkal, karena memang aku tidak melakukannya. Si Bos tetap pada pendirian dan tidak mau sama sekali menerima penjelasanku. Dan yang memicu amukku mencapai titik nadir adalah pada saat sang Si Bos berdiri dan meninggalkanku padahal pembicaraan belum selesai dengan kata-kata “Pokoke….” khas pimpinan-pimpinan dengan mental feodal. Himbauan dari Ibu Pembina yayasan yang baru saja diucapkan, telah dirusak sendiri oleh sikap dari Si Bos itu. Bagaimana bisa sebuah masalah selesai apabila seperti ini reaksinya.

Sebuah komentar dari seorang kawan, tertulis dalam status yang aku buat melalui situs jejaring sosial mengenai amuk ku tersebut. Janganlah amuk itu menjadi hal yang merusak dan menjadi bencana buatmu dan kawan-kawanmu. Namun, jadikanlah amuk itu menjadi sebuah energi untuk berupaya merubah kondisi yang tidak adil tersebut. Hmm… logikaku menerima saran itu. Ya…Emosi sesaatku – pada dasarnya hal yang wajar terjadi pada setiap manusia – telah membuat aku lupa dengan apa yang aku sudah pelajari. Aku berada dalam sebuah kondisi structural dengan suasana feudal yang ketat. Bahwa kepala sekolah berhak dan mempunyai wewenang terhadap anak buahnya. Dan anak buah mau tidak mau, suka atau tidak suka harus melakukan apa yang di instruksikan dan yang di maui oleh kepala sekolah.

Sebuah hal yang menurutku ironi. Pada saat keran demokrasi di buka terbuka lebar pada saat ini, ternyata masih saja ada pemimpin yang mempunyai watak seperti itu. Pembelajaran demokrasi lewat mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn) menjadi paradoks dengan kondisi yang ada. Bagaimana bisa siswa punya watak demokratis apabila sistem yang berlaku seperti ini. Yah…. masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Dan buat kawan-kawanku, yang juga pernah mengalami hal yang sama, mari amuk yang pernah kita rasakan itu, kita jadikan energi yang positif dan dapat kita gunakan untuk melakukan perubahan yang berkeadilan, dan menghargai sesame manusia tanpa melihat derajat, pangkat, status, jabatan, warna kulit dan lain sebagainya.

 

 

Surabaya, 26 Juni 2012

Dalam amukku di Kampus Unesa Ketintang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: