Ada Yang Pengen Jadi Orang Jelek???

Oleh : Iwan Soebakree*

 

Tetralogi Pulau Buru, Pramudya Ananta Toer sudah selesai aku baca. Segala pembicaraan dengan kawan tentang kemana larinya permasalahan yang dibahas dalam novel itu sudah berulang-ulang kami bicarakan dan herannya seperti tidak ada habisnya. Dalam beberapa pembicaraan aku terdiam karena yang dibahas yang kebetulan tidak menancap di memori otakku. Entah terlewat atau memang bisa jadi daya tangkapku yang kurang, tapi  justru aku malah senang karena dengan pembahasan itu seakan-akan melengkapi hal-hal yang aku lewatkan tadi. Aku manggut-manggut dan pikiranku melayang ke masa lalu. Ya benar. Aku mengalami seperti yang ada dalam novel itu, dan mungkin juga terjadi pada manusia-manusia lain. Sebuah kultur sosial yang menurutku harus diluruskan. Aku sendiri kurang menguasai tentang teori-teori sosial atau teori tetek bengek lainnya. Jadi dalam tulisan ini, semua mengalir berdasarkan apa yang ada di kepalaku. Dan mohon maklum pada anda-anda yang mengerti, karena aku hanya ingin menulis.

Aku terlahir dengan rambut keriting (dari mana dan kapan istilah keriting itu muncul aku sendiri tidak tahu) yang aku yakin itu adalah pengaruh gen dari bapakku. Sejak kecil keriting rambutku ini sudah dimanfaatkan oleh teman-teman masa kecilku sebagai bahan olok-olokan mereka. Begitupun saat beranjak dari SD ke SMP terus ke SMA, sasaran olok-olok karena keriting rambut terus menghujani aku. Sekali waktu aku merana dan bertanya-tanya, mengapa rambutku harus keriting? Ahh… andai saja rambutku gak keriting pasti aku tidak akan dapat olok-olok seperti ini. Keluh kesahku semakin sering muncul seiring dengan olokan-olokan yang semakin gencar dengan berbagai modifikasi. kiranya benar juga seperti yang dikatakan seorang teman belakangan. Di negeri yang aneh ini yang miskin adalah yang salah. Dan dalam aspek pergaulan sosial masyarakat kita, orang miskin itu salah satunya adalah aku yang berambut keriting, mereka yang berkulit hitam (meski bukan negroid), yang berbibir tebal, bermata sipit, hidung pesek, dan lain sebagainya. Selanjutnya apa yang akan mereka katakan tentang keluh kesah ini?? Salah sendiri rambutmu kriting! Jeedeeerrr…. Akhirnya aku tetap jadi orang yang salah. Fiuhh… berattt….!!

Sepenggal cerita diatas mungkin adalah sebuah realita kecil dari masa kecilku yang diskriminatif. Memang sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan diskriminasi yang dialami bangsa Indonesia pada masa kolonial seperti yang digambarkan Pramudya dalam novelnya. Tokoh Minke sebagai gambaran dari golongan priyayi pribumi yang juga mendapat perlakuan diskriminatif semasa hidupnya. Namun toh pada dasarnya polanya sama. Ada yang direndahkan dan ada yang merendahkan. Perlakuan-perlakuan diskriminatif inilah yang coba di dobrak oleh Pramudya dalam novel-novelnya.

Dalam perkembangan masyarakat, manusia mengenal apa yang disebut dengan nilai-nilai sosial. Setelah sedikit nukil dari wikipedia maka aku dapat sebuah definisi bahwa Nilai sosial pada dasarnya adalah sebuah konsep abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk, indah atau tidak indah, benar atau salah dan lain sebagainya. Namun, apa jadinya apabila nilai-nilai tadi dialamatkan pada manusia? Maka akan ada yang menjadi korban-korban tadi. Entah itu karena fisik, status, materi, pangkat, kedudukan dan lain sebagainya.

Teringat aku dengan pembicaraan dengan kawan-kawan dalam diskusi ringan kami. Bahwa tidak ada manusia yang bisa memilih fisiknya pada saat dia lahir. Baik itu warna kulit, rambut, bibir, gigi dan hingga bagian terkecil dalam diri manusia. Begitu pula tidak ada manusia yang mampu memilih apakah dia jadi anak orang kaya atau orang miskin. Namun, dalam perkembangan nilai-nilai budaya di dalam masyarakat kita, mereka-mereka manusia yang berambut keriting, berkulit hitam, berbibir tebal, atau ndower, berhidung pesek (mancung ke dalam), tidak berharta, miskin, dan sebagainya telah menjadi korban dari kultur tersebut. Ibaratnya apabila dari sisi materi ada orang-orang kaya dan miskin, maka dari sisi fisik akan ada orang-orang cakep (ganteng, cantik) dan orang jelek. Sehingga bisa ditebak terpuruklah mereka-mereka yang dikategorikan jelek dalam pergaulan di masyarakat. Parahnya hal ini telah menjadi hal yang biasa dan membudaya di masyarakat kita, tanpa kita tahu bahwa hal tersebut mengakibatkan sakit bagi yang mengalaminya.

Aku berpandangan positif bahwa tidak ada orang tua yang secara langsung memberitahukan dan mengajarkan hal yang mendiskreditkan orang lain, namun dari budaya yang berkembang di masyarakat, mungkin  mereka, para orang tua itu tidak sepenuhnya sadar, bahwa apa yang mereka opinikan sehari-hari secara tidak langsung dapat membentuk watak anak-anaknya dalam memandang manusia. Yang memandang bahwa hitam itu jelek, pesek itu jelek, keriting itu tidak keren dan lain-lain. Masalahnya siklus seperti ini terus terjadi, sehingga mendidik anak yang secara benar dan tidak rasial lah, yang dapat memutus mata rantai masalah orang-orang jelek ini.

Maju tidaknya sebuah bangsa ditentukan oleh pendidikannya, begitu kata para ahli. Secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap budaya serta pola pikir masyarakat di dalamnya. Mungkin sudah kita ketahui bersama bahwa pendidikan yang ada di Negara ini (ada teman yang menyebutnya masih berbau feodal), kurang menanamkan tentang kesetaraan manusia. Bahasan-bahasan tentang kesetaraan ini hanya ada dalam tataran teori namun tidak menyentuh ke ranah praktek. Akibatnya teori yang diterima anak didik bertolak belakang dengan prakteknya. Meski disekolah mereka menerima pelajaran tentang toleransi, tenggang rasa dan lain sebagainya, akan tetapi olok-olok dan sikap merendahkan kepada si jelek masih saja terjadi hingga hari ini. Sebuah hal yang menurutku sebagai sikap “homo homini lupus” dalam aspek verbal dimana manusia merendahkan manusia lainnya hanya untuk mendapat sebuah kepuasan batin. Mengorbankan manusia lainnya untuk mendapatkan kepuasan diri sendiri.

Revolusi Prancis telah lama berlalu. Sebuah peristiwa yang salah satunya dapat mengajarkan kita tentang pentingnya Egaliter atau kesetaraan manusia. Dan bukankah dalam agama juga diungkapkan bahwa semua manusia adalah sama derajatnya di mata Tuhan? Dan terbukti, ternyata hingga saat ini dalam masyarakat kita tidak semua orang paham betul akan ajaran-ajaran tersebut. Padahal apabila dalam masyarakat kita betul-betul memahami tentang arti kesetaraan manusia, maka seperti yang ditulis Pramudya Ananta Toer dalam novelnya Indonesia akan menjadi bumi yang benar-benar bumi manusia. Egaliter dan memanusiakan manusia. Tidak akan ada yang merendahkan dan tidak akan ada yang direndahkan. Namun, patut dicamkan pula bahwa merubah pola pikir ini bukanlah perkara gampang. Karena sudah mengakar di kepala kita sejak kecil. Mungkin sama halnya merubah bentuk pocong yang selama ini ada di televisi dan cerita-cerita orang menjadi tikus. Jadi bila hal ini, benar-benar terjadi, Indonesia akan tentram dan damai karena semua sesama manusia saling menghargai. Mengapa? karena kita semua adalah Anak Semua Bangsa.

 

 

* * * * * * * * *

Gresik, 19 Mei 2012

*Pengurus Perpustakaan Bersama, Gresik dan Pengajar Partikelir di SMA

2 Responses to Ada Yang Pengen Jadi Orang Jelek???

  1. Medi Bilem says:

    Lha ini, ga pake teori yang “sah” akademis, bagus kok tulisannya..
    Menuliskan apa yang dirasakan itu sebuah awal membangun budaya modern, yang cuman hobi mencaci dan omong doang itu yang purba..

    So, selamat dah berani berekspresi dengan tulisan.., and anyway jadi bisa lebih ngerti apa yang selama ini kamu pikirkan..
    Amuk, melow, pelangi.., semua bagus, enak dibaca

    Selamat

    • soebakree says:

      Trims kawan. aku merasa masih tumpul dan masih kurang konsistensinya. makanya aku masih namai tulisan ini pena tumpul. semoga kedepan bakal jadi belati tajam… hahahahah…!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: