Manjali dan Cakrabirawa

Judul Buku : Manjali dan Cakrabirawa

Penulis          : Ayu Utami

Penerbit       : Kepustakaan Populer Gramedia, 2010

Oleh : Iwan Soebakree*

Novel ini merupakan kelanjutan dari novel Bilangan Fu yang terangkai dalam satu seri. Apabila novel Bilangan Fu lebih bernuansa filosofis, maka seri roman ini lebih merupakan petualangan memecahkan teka-teki. Seri Bilangan Fu sendiri adalah serangakaian novel dengan tiga tokoh utama Marja, Yuda dan Parang Jati. Kali ini, si gadis kota, Marja dititipkan oleh Yuda kekasihnya kepada Parang Jati sewaktu libur kuliah. Mereka menjelajahi alam pedesaan Jawa serta candi-candi disana, perlahan namun pasti Marja jatuh cinta pada sahabatnya itu. Parang Jati membuka matanya akan rahasia yang terkubur dibalik hutan : kisah cinta, sedih dan hantu-hantu dalam sejarah negeri ini. Salah satunya adalah hantu Cakrabirawa atau Bhairawa Cakra.

Tema mengenai percandian dari masa Indonesia klasik, mitos calon arang serta misteri arca Bhairawa Cakra, yang kemudian dipakai oleh pasukan elit penajaga presiden pada masa Orde Lama dengan nama Cakrabirawa. Semua berhasil dirangkaikan dalan sebuah teka-teki yang cantik dan menarik oleh Ayu Utami. Ditambah dengan adanya tokoh Jacques-seorang arkolog dari Prancis- turut memberikan warna pada pola-pola pemikiran dalam novel ini. Antara pemikiran irasional yang spiritualis dan klenik dengan pola pikir rasional khas ilmuwan. Rentetan kebetulan-kebetulan dalam novel ini seakan-akan memberikan pilihan pada kita. Memilih berpikir irasional dan berkata bahwa ini adalah rencana Tuhan ataukah berpikir rasional dengan berusaha mencari pola-pola dari kejadian-kejadian tersebut.

Gambaran-gambaran ekskavasi dari Candi Calwanarang (Candi Calon Arang), mampu membawa bayangan akan kerja-kerja dari arkeolog pada kita semua. Identifikasi Arca serta teka-teki misteri dari candi tersebut paling tidak turut mengingatkan kita bahwa masih banyak rahasia-rahasia dari bumi Indonesia yang masih perlu digali, dan harus kita jaga kelestariannya. Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah (Jas Merah) kata Bung Karno, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai sejarah bangsanya.

Pesan-pesan humanisme juga tersirat dalam novel ini. Tokoh Murni dan Sarwengi sang Cakrabirawa sebagai salah satu dari sekian juta korban dalam konflik tahun 1965 pada dasarnya adalah manusia juga. Memang dari beberapa tulisan-tulisan mengenai novel ini, penulis nampak tidak mampu mengontrol emosinya dan seperti berceramah tentang kelamnya kejadian tersebut. Namun bagi seorang penganut humanis, saya rasa sah-sah saja. Militer maupun PKI, dua-duanya tidak ada yang menang. Rakyat yang saling membunuh semuanya bagi saya kalah. Karena yang menang adalah pihak-pihak yang menghendaki adanya hal tersebut. Apapun dalihnya, pembunuhan manusia atas manusia lainnya adalah sebuah kejahatan atas kemanusiaan.

Meski menarik bukan berarti novel ini tanpa kelemahan. Ada yang mengatakan bahwa novel ini kurang fokus. Mungkin ada benarnya juga. Salah satunya adalah penjelajahan candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur oleh Parang Jati yang dan Marja, yang saya rasakan begitu singkat dan kering. Sehingga nilai-nilai estetika dari peninggalan-peninggalan sejarah bangsa kita seakan-akan kurang nampak dan terasa hambar.

Namun secara keseluruhan novel ini turut mempertegas kecintaan sang penulis terhadap tanah airnya. Tokoh-tokoh dalam novelnya adalah mereka-mereka yang cinta akan budaya bangsa serta peninggalan-peninggalannya. Suhubudi yang seorang spiritualis dan Jacques yang seorang Prancis, adalah sama-sama pemerhati peninggalan sejarah meski dari perspektif yang berbeda. Saya masih ingat, Ayu Utami menggoreskan sebuah kalimat persembahan dalam novelnya, “Saya sedih karena dilahirkan di Indonesia, namun saya mencintainya.” Salut buat Ayu Utami dan semoga dapat berkarya lebih baik lagi.

Selamat Membaca..!!

4 Responses to Manjali dan Cakrabirawa

  1. ftrhapsody says:

    wahaha. . . pengen baca yang bilangan Fu pak xD habis diceritain guru les saya. sayangnya di perpus trimurti ga ada ya.

  2. soebakree says:

    ntar saya pinjami dari Perpustakaan Bersama gresik. Tapi kembalikan lho ya..??

  3. dio says:

    Marja, membuat saya sangat ingin tidur di hutan saat itu..
    Saya menculikkan diri saya pd Parang Jati, yg bukan sahabat siapa2 saya.. Jika 2bulan kmdn kami menikah, tentunya krn bnyknya peristiwa kebetulan lain yg mjd benang merah kami..
    Hahaaa.. Saya meninggalkan Yuda, krn dia mmg bukan utk saya.. Ehmmm.. Krn saya bukan utk Yuda..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: