Long March di samping Ketua Mao Tse Tung

Judul buku : Long March di samping ketua Mao Tse Tung

Penulis  : Tjen Tjan Feng

Penerbit : Guci Media Surabaya (2001)

Buku ini diterbitkan berdasarkan sebuah catatan perjalanan seorang tentara Merah China bernama Tjen tjan Feng, ajudan setia Mao Tse Tung selama Long March Revolusi Tiongkok pada tahun 1930-1936, sejauh 12.500 km, yang melewati 11 propinsi mulai dari Fu Cien, Ciang Si, Kuang Tung, Hu Nan, Kuang Si, Kui Chou, Si Kang, Se Cuan, Kan Su, dan yang terakhir menuju Sansi utara.

Setelah membaca buku ini, memang benar seperti yang telah dipesankan oleh sang kata pengantar di awal-awal, buku ini tidak memaparkan muluk-muluk tentang ideology dan pemikiran ataupun strategi politik dan militer ala Mao Tse Tung, melainkan sebuah kisah sikap dan perilaku sehari-hari dari seorang Mao Tse Tung dalam Long March tersebut.

Layaknya sebuah biografi, buku ini ringan untuk dicerna namun tidak mengurangi berbagai pesan moral yang dibawanya. Paling tidak kita bisa melihat gambaran sosok Mao Tse Tung dari perspektif subjektif lain, yaitu dari ajudan setianya, Tjen Tjan Feng yang kemudian diangkat menjadi Kolonel dan menjabat sebagai panglima sub teritorium Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok atau yang lazim disebut dengan Tentara Merah, yang kadang kala jauh berbeda dari yang pernah kita lihat, dengar dan baca dari referensi-referensi orde baru yang mana Komunis itu identik dengan kekejaman dan tidak berperikemanusiaan.

Lagi-lagi kemungkinan munculnya mindset orde baru akan mampir di kepala anda. Buku itu buku komunis, menceritakan tentang tokoh komunis, termasuk yang dilarang peredearannya oleh pemerintah Soeharto, menyesatkan, kejam dan lain sebagainya. Mungkin segala teriakan-teriakan itu yang akan terngiang-ngiang di telinga anda. Namun apabila anda adalah seorang intelektual yang berpikir rasional dan menjunjung objektifitas keilmuan, maka sudah selayaknya anda membaca dulu setelah itu baru anda putuskan.

Sejak lima belas abad yang lalu jazirah arab telah menyerukan kepada manusia “Belajarlah terus sampai ke negeri China”. Menambah wawasan keilmuan dari hal apapun, dan dari manapun. Bebas berpikir dan bebas meraup wacana seluas-luasnya khazanah keilmuan kita yang sekarang sedang mengalami kegalauan dan carut marut di negeri sendiri. Sehingga mungkin ada sesuatu hal yng bisa kita ambil dan bisa dijadikan referensi untuk memperbaiki semua kesalahan yang tejadi menjadikan negeri kita pulih seperti sedia kala. (Iwan Soebakree)*

Selamat membaca!!

2 Responses to Long March di samping Ketua Mao Tse Tung

  1. Sejarawam says:

    Komunis…bukan suatu penyesatan…tetapi ideologi, dimana Kapitalis, Demokrasi, juga melakukan kebohongan-kebohongan, pembunuhan, penyiksaan, intimisadi…salah satu contoh; Negara T.Tengah yg akhir.2 ini terkuak, keditaktoran, Korupsi, Pembunuhan, Penyiksaan, pembunuhan, Pelanggaran HAM terhdp Rakyatnya sendiri, padahal mereka mendengung-dengungkan Agamais. Amerika/Eropa…menganut prinsip Demokrasi, dan selalu menekakan HAM, ttpi ternyata mereka sendiri melanggar Prisnsipnya menciptakan Perang dgn alasan Demokrasi dsb, tetapi akibat ulahnya byk nyawa yg tak berdosa melayang, harga yg sangat mahal harus dibayar Bgs Amerika, Eropa Prajurit.2 byk yg gugur sia-sia dan biaya perang yg mahal menciptakan krisis ekonominya sendiri. Negara.2 yg menganut Demokrasi/Kapitalis..(Agamais)….ternyata justru pejabat-pejabatnya Negaranya banyak melakukan Korupsi, menghabiskan uang rakyatnya dgn sia-sia dlm pemilihan umum, partai politik bersekongkol satu sama lainnya, Rakyatnya ternyata mengalami kemiskinan sandang, pangan, pendidikan mahal, biaya berobat mahal.

  2. sejarawan says:

    Mengapa bgs Indonesia tdk bisa menjadi negara Maju & lebih mencintai Budhaya T.Tengah yg penuh kekerasan, Kebohongan, Sadisme, Kemunafikan. Keditaktoran, tdk mencintai warisan Budhaya nenek moyangnya berpakaian sprti Org Arab dri sekolah s/d para petinggi negara, perjuagan para pahlawan utk merebut kemerdekaan dfgn tetesan darah demi mempertahakan Merah Putih meninggalkan Anak Istri, supaya rakyat tdk dijajah, bahkan terbalik ada yg tdk menghormati Benderanya, Di muka Bumi ini tdk ada satu negarapun yg rakyat tdk menghormati Benderanya, hukumannya sangat berat bagi penantang, dimana saat itu org.2 tsb, ketika para pahlawan berjuang ? jelas mereka tdk pernah mendengar dengungan meriam dan desingan peluru-peluru,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: