Guru dan Strata Sosial

Oleh Agus Listiyono

Beberapa waktu lalu penulis bertemu dengan sepasang suami isteri yang berprofesi sebagai guru. Suami sebagai Kepala Sekolah di sebuah sekolah boarding sedang isteri sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di sebuah sekolah menengah pertama. Keduanya sebagai guru di lembaga pendidikan swasta. Mereka tinggal di kota Bogor. Jika dihitung dengan rentang tahun, pasangan ini telah mengabdikan dirinya sebagai guru kurang lebih 5 tahun, yaitu setelah lulus dari sekolah guru yang dulu bernama IKIP.

Dalam tulisan ini penulis ingin sekali mengemukakan pada kita semua tentang sisi yang selama ini kita ketahui, pahami dan sadari bersama, yaitu tentang profesi guru dan pandangan kita (baca: masyarakat) terhadap profesi tersebut. Termasuk juga profesi Pak Jono dan Bu Ani, sepasang guru yang dimaksud. Pak Jono dan Bu Ani adalah lulusan dari sekolah guru yang bernama IKIP. Dan beginilah cerita Pak Jono.

Sebagai lulusan yang tergolong baik di sekolah menengah umum teladan (Parameter keteladanan adalah tingginya persentasi lulusan SMU ini yang diterima di Universitas atau perguruan negeri ternama di Indonesia. SMU ini konon sebagai SMU percontohan. Dan hal ini diakui oleh seluruh anggota masyarakat), ia tidak ikut berebut kursi di perguruan tinggi bergengsi tetapi justru masuk ke lembaga pendidikan guru yang bernama IKIP. Keyakinan untuk masuk dalam lembaga pendidikan keguruan tersebut muncul bukan karena kondisi ekonomi keluarga tetapi karena terpanggilnya ia untuk menjadi guru. Tekadnya masuk institut pendidikan guru untuk pertama kali mendapat ’hambatan’ bukan dari pihak keluarga tetapi justru dari staf administrasi dan beberapa guru di sekolah asalnya, SMU teladan tersebut. Komentar yang bernada merendahkan ia dapat ketika ia harus mengurus legalisasi ijazah aslinya (Dia hingga sekarang belum menjadi caleg dari partai politik apapun, jadi ijazahnya 100 % asli) di SMUnya.

’Kok masuk IKIP?’ begitu komentar padanya ketika diketahui bahwa ia akan melanjutkan studinya. ’Ya, saya ingin seperti Bapak?’ lanjutnya. ’Dengan prestasi dan hasil nilaimu seperti sekarang, kamu layak masuk ITB atau UI. Kok malah ke IKIP?’

***

Dari gambaran dan dialog pendek yang dikutip di atas kita akan lihat beberapa implikasi dari fragmen tersebut. Karena penulis yakin sekali bahwa fragmen tersebut adalah cermin jujur dari konstelasi sosial yang hidup di masyarakat kita dewasa ini. Pertama, harus diakui bersama bahwa profesi guru adalah profesi bukan kelas berharga. Pengakuan ini lahir tidak saja dari orang-orang yang berprofesi bukan sebagai guru tetapi juga dari para guru itu sendiri. Pertanyaan guru Pak Jono kepadanya saat dia meminta legalisasi ijazah, adalah bentuk konkrit dari paradigma itu. Kenyataan ini sangat memprihatinkan bagi pengembangan sumber daya manusia kita. Karena sumber daya alam kita yang melimpah ternyata hanya menyisakan kubangan limbah bagi sebagian rakyatnya. Hal ini salah satu penyebabnya adalah kerena minimnya SDM yang mampu mengelolanya.

Kedua, guru adalah profesi yang tidak perlu dipasok dengan kepandaian. Sehingga guru tidak linier dengan pandai. Oleh karena itu bila kita adalah orang-orang pandai di sekolah maka masuklah ke perguruan tinggi bergengsi dengan jurusan prestisius. Walaupun ketika lulus nanti anda yang jurusan pertanian sangat boleh jadi akan bekerja sebagai perbankan. Dan jika demikian maka mahasiswa keguruan adalah kumpulan mahasiswa yang gagal masuk ke perguruan bergengsi dengan jurusan prestisius. Dengan demikian mereka adalah genersi yang tidak pandai. Dan anehnya hal ini ditolelir oleh masyarakat kita, even mereka adalah guru, sebagaimana cerita di awal tulisan ini.

Ketiga, bila kita ingin melihat lebih dalam lagi terhadap kenyataan di atas, maka kita dapat menarik lagi satu asumsi bahwa masyarakat kita masih memiliki keyakinan yang teramat tebal terhadap pen’strataan’. Inilah virus feodalisme. Dalam kacamata kesejagatan, kanyataan hidup ini menjadikan kita kerdil dalam arus multikultural. Penulis teringat dengan kisah cinta teman guru yang berkeluarganegaraan Australia dengan seorang anggota satuan pengamanan sekolah. Dari pandangan kita sebagai bagian dari bangsa ini, jika kita mau jujur, kenyataan ini terasa ’kurang’ layak. Tapi di negara si asing ini, setiap profesi memiliki martabat yang sejajar, jadi tentang hubungan dekatnya dengan salah seorang anggota satuan pengamanan adalah sesuatu yang sah dan layak.

***

Uraian tersebut adalah kenyataan yang ada dalam masyarakat kita. Kita semua tidak tahu pasti hingga kapan kehidupan kita memandang strata sosial yang ada dengan martabat yang berimbang. Penulis berasumsi bahwa membongkar paradigma yang timpang, egois dan feodal tersebut hanya dapat dilakukan melalui jalur pemberdayaan sumber daya manusia yaitu edukasi. Dengan memperlihatkan, melatih, serta mempraktikkan sebuah generasi yang kulturnya bersandarkan egaliterian sebagaimana yang telah diteladankan oleh Muhammad SAW. Dan mudah-mudahan ini pula yang akan menjadi salah satu dari apa yang dimaksud dengan peletakan fondasi yang efektif untuk memajukan pendidikan nasional oleh presiden terpilih dalam pidato politiknya, Sabtu (9/10/2004). Semoga. (Agus Listiyono, Praktisi Pembelajaran di Jakarta).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: