Catatan Seorang Demonstran

Soe Hok Gie
Catatan harian milik Soe Hok Gie, aktivis yang menempa populariti pada zaman kemahasiswaannya, menjadi inspirasi kepada ramai pembaca yang gemar meneropong sudut-sudut fikir orang.Catatan harian beliau sejak 4 Mac 1957, seawal umurnya pada 14 tahun, sehingga 8 Disember 1969 telah dibukukan dalam judul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran.

Catatan Gie adalah berkisarkan tentang pengalaman dan pemikirannya terhadap sastera, sejarah, politik, cinta, kehidupan dan kematian.

Lahirnya sang aktivis

Soe Hok Gie atau popular dikenali sebagai Gie, lahir di Indonesia pada 17 Disember 1942.

Seawal umur 15 tahun, Gie sudah melahap karya sastera Shakespeare, Andre Gide, Amir Hamzah dan Spengler, malah pernah berdebat dengan gurunya berkenaan Chairil Anwar dan Rivai Apin.

Gie melanjutkan pelajaran di Universiti Indonesia pada 1961. Saat inilah beliau terjerumus ke dalam aktivisme kemahasiswaan. Bahan bacaannya juga semakin berat apabila beliau menelaah karya Bernard Shaw, George Orwell, Djilas, Koestler, Marx dan lain-lain karya politik.

Gie bersama teman-temannya pada 24 Februari 1963 pernah bertemu muka dengan Presiden Soekarno, berdialog tentang beberapa isu. Antaranya, soal ras, perkahwinan, homoseks, politik dan pndidikan nasional.

Untuk ini, Gie mencatat, “Sebagai manusia, saya kira senang pada Bung Karno, tetapi sebagai pemimpin tidak. Bagaimana ada pertanggungjawaban sosialisme melihat negara dipimpin oleh orang sebegitu?”

Rupa-rupanya dalam dialog tertutup itu, akibat terlalu tidak formal, Soekarno telah mengeluarkan hujah-hujah yang bersifat ‘tidak bermoral’, malah secara tidak sengaja membuka tembelang ‘mata keranjangnya’ terhadap wanita.

Gie yang sememangnya tidak senang pada ‘Orde Lama’, terus-menerus mengkritik kebejatan sosial era Soekarno melalui tulisannya di akhbar, serta menganjurkan perhimpunan-perhimpunan besar mahasiswa.

Tidak dapat dinafikan, tumbangnya Soekarno dipengaruhi besar oleh Gie. Gie dan teman-temannya dari seluruh Indonesia bergabung menentang barisan kepimpinan Soekarno yang tidak amanah dan gagal menjalankan tugas sebagai pemerintah.

Beliau juga antara yang terawal mengkritik rejim Orde Baru, sejurus berlakunya transisi politik Indonesia (era Soeharto).

Pengkritik yang jujur

Tulisan-tulisan Gie sangat berani, jujur, dan bertanggungjawab. Ideanya menyingkap sisi-sisi yang jarang difikir masyarakat, atau yang diabaikan. Tidak hairanlah jika yang tua mahu pun yang muda, begitu terpengaruh dengan tulisan beliau.

Mengulas zaman peralihan Soekarno-Soeharto, Gie sinis menulis, “Betapa banyaknya ketidak adilan di dunia ini. Tidak hanya di Indonesia, tetapi di mana-mana juga di seluruh dunia. Seolah-olah dunia ini tompokan sampah dari nafsu dan ketamakan manusia.

“Sebagian dari mereka berhasil dan jadi orang terhormat Gandhi, Kennedy, tetapi berjuta-juta tenggelam dalam ‘sampah-sampah’ dan hilang ditelan waktu. Tetapi yang lebih menyedihkan adalah mereka yang menemui kekecewaan kemudian dipenuhi oleh rasa benci terhadap lawannya.”

Dunia Gie tidak terbatas hanya di Indonesia. Pada 1968, beliau sempat berkunjung ke Amerika Syarikat dan Australia. Di sana, Gie bukan setakat dapat bertemu dengan kenalan-kenalan mahasiswa dan pemikir, tetapi berkesempatan untuk menyampaikan ucapan dalam pertemuannya dengan beberapa pertubuhan mahasiswa.

Gie berkiblatkan kebenaran. Teman-teman seangkatan beliau (Angkatan 66) tidak terlepas daripada kritikan apabila lupa dengan misi perjuangan. Sebahagian temannya, ketika tahun 1966 menentang pemerintah, tetapi akhirnya berpihak kepada mereka sesudah ditawarkan jawatan.

Akhir hayat

Gie gemar mendaki gunung. Pertubuhan yang diasaskannya, Mapala Univesitas Indonesia giat menjalankan kegiatan luar ini. Projek pendakian terakhir yang diusahakannya, mendaki Gunung Semeru (3.676m), menjadi tanda tanya ramai pihak.

Kenapa mesti mendaki gunung, sedangkan banyak lagi kekalutan politik yang memerlukan usaha anak muda ini?

Gie menjawab, “Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.

“Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

8 Disember 1969, Gie memulakan projek pendakiannya. Saat inilah catatan akhir beliau ditulis sebelum menghembus nafas terakhir pada 16 Disember 1969, sehari sebelum ulang tahun kelahirannya ke-29 akibat terhirup gas beracun (lava gunung berapi).

Catatannya seperti ini, “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari minggu yang lalu.

Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”

24 Disember, mayatnya dikebumikan di perkuburan Menteng Pulo, kemudian di pindahkan ke perkuburan Kober, Tanah Abang dua hari selepas itu. Bagaimanapun, teman-temannya berpendapat lebih baik mayatnya dibakar dan abunya ditabur di puncak gunung.
Mayat Gie kemudiannya dibakar dan abunya ditabur di puncak Gunung Pangrango.

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,939 other followers

%d bloggers like this: